Pemijahan, Kunci Sukses Budidaya Lele

Editor: Satmoko Budi Santoso

BEKASI—Bisnis ikan lele, seakan tidak ada matinya. Permintaan pasar terus meningkat setiap waktu karena cukup diminati oleh semua kalangan.

Budidaya ikan lele tidak harus dengan teknologi modern, tetapi harus rutin melakukan pemijahan dan mengatur kualitas air seperti level potensial hydrogen (pH) harus sesuai dengan kebutuhan.

Kiat tersebut disampaikan langsung Suharto sebagai bendahara koperasi Patriot yang fokus pada bidang pembudidaya ikan. Ia memiliki belasan kolam khusus bibit ikan lele di wilayah Mustika Jaya, Kota Bekasi Jawa Barat. Bibit tersebut dijual ke pelaku budidaya yang sudah menjadi langganan.

“Bisnis ikan lele ini, tidak ada matinya. Tapi saya fokus budidaya pembibitan untuk dijual ke pembudidaya. Pembibitan lebih ringan dan lebih cepat jadi uang,” kata Suharto kepada Cendana News, Senin (18/2/2019).

Suharto, bendahara koperasi Patriot – Foto: Muhammad Amin

Suharto mengaku, hanya membeli bibit jadi dengan harga Rp50 perak, dan dibesarkan hingga ukuran 4-5 sentimeter.

Dijual lagi dengan harga Rp400/per ekor. Untuk mencapai harga jual tersebut, waktunya bisa dua bulan perawatan. Budidaya pembibitan memerlukan bantak kolam untuk melakukan pemijahan atau sortir.

Budidaya pembibitan ikan lele, dia mengaku, masih menggunakan cara sederhana. Tetapi, beberapa hal yang harus diperhatikan adalah masalah level potensial hydrogen (pH) air, jenis bibit ikan lele sendiri, dan jenis pakan. Terakhir adalah waktu pemijahan atau sortir.

“Pemijahan merupakan salah satu kunci sukses, karena harus dilakukan secara rutin, sesuai dengan waktu secara berkala. Kalau tidak, maka ikan akan besar dan bisa memakan ikan yang lebih kecil. Idealnya pemijahan dilakukan setelah 21 hingga 30 hari,” ujarnya.

Pemijahan ikan lele setelah 21 sampai 30 hari. Untuk disortir sesuai ukuran. Foto: Muhammad Amin

Pemijahan juga bisa melihat bibit ikan lele, apakah ada yang luka. Karena lele yang luka pasti dimakan oleh lele lainnya. Dalam sebulan, Suharto mengaku bisa menjual sampai 12 ribu bibit dengan harga Rp400/per ekor. Perawatannya cukup mudah hanya dikasih makan dua kali sehari pagi dan sore.

Menurut Suharto, budidaya ikan lele, gampang-gampang susah. Selain soal pemijahan, masalah level pH air juga harus mendapat perhatian khusus. Karena air yang jernih belum tentu memiliki pH yang bagus. Untuk itu harus memiliki alat ukur pH air agar mendapatkan hasil maksimal.

Lebih lanjut, ia menyarankan, agar petani budidaya ikan lele, dapat fokus pada satu bidang. Jika budidaya pembesaran tidak perlu melakukan pembibitan. Hal tersebut disampaikan berdasarkan pengalamannya sehingga usahanya lebih fokus dan terarah.

“Jangan serakah, semua dilakukan, budidaya juga ya, pembibitan juga. Karena biayanya cukup besar dan memakan waktu yang lama. Lele itu dari bibit sampai masuk masa panen, bisa mencapai waktu 7 bulanan,” ujarnya.

Ia sendiri mengaku, dalam pembibitan sebulan, hanya mengeluarkan biaya Rp200 ribu untuk pakan seperti pelet. Ikan lele, imbuhnya, tidak pernah cukup dengan makanan. Berapa banyak pakan yang diberikan pasti habis.

Untuk itu harus diatur disesuaikan dengan kebutuhan memberi makan dua kali sehari.

“Bagi pemula yang akan membudidaya lele, disarankan dapat ikut dalam komunitas tertentu. Sehingga memiliki pasar tersendiri. Permintaan ikan lele di Kota Bekasi masih menjanjikan,” pungkasnya.

Lihat juga...