BAZNAS Ajak Masyarakat Peduli Sesama Lewat Film
Editor: Koko Triarko
JAKARTA – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), menggelar acara pemutaran perdana (premiere) film kemanusiaan ‘Iman di Pangkuan Sang Fakir’. Film ini berkisah tentang perjuangan seorang anak bernama Iman dalam menjalani kehidupan. Dalam kondisi kehidupan serba sulit, justru banyak yang memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan yang bukan haknya.
Ketua BAZNAS, Bambang Sudibyo, menyebutkan, realita kemiskinan terbingkai dalam kisah ini, seperti jeratan rentenir yang membuat kondisi masyarakat miskin semakin terpojok.
“Melalui film ini, BAZNAS ingin menggugah semangat masyarakat untuk peduli dengan kondisi kemiskinan yang nyata di lingkungan sekitarnya,” kata Bambang, usai menyaksikan pemutaran perdana film kemanusiaan ‘Iman di Pangkuan Sang Fakir’ ini di Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (6/2/2019).
Menurutnya, zakat bukan hanya soal pemberian bantuan, tapi yang lebih penting bagaimana rasa kepedulian terhadap kesulitan sesama itu harus terus dipupuk. Sebab, kemiskinan yang melanda sebagian masyarakat di negeri ini memang mengkhawatirkan.
Namun demikian, tegasnya, yang sesungguhnya lebih mengkhawatirkan ialah punahnya rasa kepedulian dari orang yang mampu.
“Maka, BAZNAS terus mengkampanyekan ajakan kebaikan dan membangkitkan peran aktif masyarakat dalam permasalahan nyata yang terjadi di sekitar lingkungan mereka,” tandasnya.
Dia mengatakan, kemiskinan bukan hanya membutuhkan penanganan secara material, tapi juga memerlukan solusi spiritual untuk mendampingi pembangunan manusianya. Hal ini sesuai dengan syariat zakat, yang melengkapi program penanggulangan kemiskinan dengan memberikan dakwah bagi para penerima manfaat.
Direktur Utama BAZNAS, Arifin Purwakananta, mengatakan, film ini dibuat dengan mengangkat realita yang terjadi. Tujuannya, untuk menanamkan kepedulian pada persoalan kemanusiaan.
Film ini akan diputar secara independen oleh BAZNAS. BAZNAS daerah bekerja sama dengan berbagai pihak yang memberikan sponsor.
“Juga sudah ada permintaan dari Komunitas Pekerja Migran Indonesia (PMI) di luar, negeri untuk memutar film ini di Hongkong, Taiwan dan Korea,” ujarnya.
Menurutnya, film kemanusiaan ini bisa menjadi sarana efektif untuk mengedukasi, sekaligus mengkampanyekan kesadaran berzakat di kalangan generasi milenial.
Generasi milenial umumnya lebih suka terlibat di kegiatan filantropi yang bersifat interaktif. Dengan menggunakan teknologi informasi dan budaya pop, seperti film, musik, dan lainnya.
Melalui film ini, BAZNAS bisa memberikan teladan sekaligus inspirasi bagi organisasi filantropi. “Khususnya Badan Amil Zakat (BAZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ), untuk mulai menggunakan cara-cara yang lebih inovatif dalam mengkampanyekan zakat, sekaligus menggaet muzakki dari kalangan milenial,” katanya.
Ketua DPC Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Wonosobo, Maizidah Salas, berharap film ini dapat mengingatkan masyarakat kembali untuk tidak abai dalam lingkungan kehidupannya.
“Kita perlu terus menanam rasa kepedulian di dalam hati, dan menularkannya kepada lingkungan. Karena banyak hal yang dapat membuat rasa kepedulian itu menjadi terkikis,” katanya.
Dia menyampaikan, bahwa realita yang dialami para buruh migran juga menjadi inspirasi dalam cerita ini. Buruh migran menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat yang lekat dengan keterbatasan.
Pemutaran film yang diproduksi bersama SBMI Wonosobo ini dihadiri oleh Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama, Fuad Nasar, Direktur Eksekutif Filantropi Indonesia, Hamid Abidin, dan sejumlah undangan serta masyarakat umum yang menonton sambil berinfak.