Usaha Hatchery di Rajabasa Mulai Bergeliat
Editor: Mahadeva
LAMPUNG – Kondisi angin kencang dan gelombang tinggi, tidak mempengaruhi usaha perikanan baik budi daya maupun tangkap di Lampung Selatan.
Zainal, penanggungjawab salah satu usaha pembenihan udang (hatchery) di Desa Way Muli Induk, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan (Lamsel) menyebut, pengusaha justru memanfaatkan kondisi saat ini untuk memperbaiki fasilitas usaha. Bersama sejumlah pekerja, Dia melakukan perbaikan saluran pemasukan air atau inlet ke area hatchery. Fasilitas tersebut rusak diterjang tsunami Selat Sunda pada Sabtu (22/12/2018) silam.
Usaha hatchery, banyak yang saran dan prasarananya rusak, seperti kerusakan mesin pompa air tawar, pompa air laut, jaringan pipa air laut, dinamo, blower serta sejumlah fasilitas lain. Bahkan terlihat, pagar tembok pemisah antara lokasi pembenihan dan jalan raya juga roboh dihantam gelombang tsunami. Prioritas perbaikan, dilakukan pada pagar dan tembok untuk menjaga keamanan aset.
Pascatsunami ada sejumlah pihak yang memanfaatkan kesempatan untuk mencuri barang-barang di hatchery. Kondisi hatchery yang kosong ditinggal karyawan menyelamatkan diri dimanfaatkan para pencuri. Kerugian yang dialami pengusaha mencapai ratusan juta. “Pada hatchery yang kami kelola beruntung hanya mengalami kerusakan pada bagian pipa tapi anggota asosiasi penguasaha udang lain mengaku ada yang selain mengalami kerusakan juga kehilangan peralatan akibat pencurian,” terang Zainal saat ditemui Cendana News, Minggu (20/1/2019).

Meski telah melakukan perbaikan, Zainal menyebut, usaha yang dijalankan belum beroperasi. Usaha yang tidak mengalami kerusakan berat, tercatat masih bisa beroperasi. Salah pengusaha yang belum menjalankan kegiatannya lagi adalah Kimong. “Saya masih melakukan pembenahan fasilitas dan karena keterbatasan modal untuk perbaikan membuat saya memilih sementara istirahat produksi,” terang Pemilik usaha Hatchery Skala Rumah Tangga (HSRT) di Desa Rajabasa tersebut.
Kimong mengalami kerugian lebih dari Rp200 juta akibat tsunami. Kerugian tersebut merupakan estimasi dari kerusakan peralatan serta fasilitas untuk usaha.
Penanggungjawab usaha hatchery lain, Waris, menyebut, dari 28 kolam yang dikelola, kerusakan terjadi di tiga kolam. Sementara benur udang ukuran 10 PL (post larva) yang masih ada di kolam sebagian mati, karena peralatan sirkulasi oksigen rusak. Pada saat kejadian, karyawan memilih menyelamatkan diri, karena ketinggian air tsunami mencapai lebih dari dua meter. Sarana produksi yang rusak saat ini mulai dibereskan dan tercatat sebagian sudah tidak bisa digunakan.
Bangkitnya usaha budi daya, juga diikuti sektor usaha perikanan tangkap. Asnari, salah satu nelayan pemilik perahu ketinting atau mancungan, mengaku mulai melaut untuk mendapatkan ikan. Dia memastikan, kondisi cuaca pada malam hari didominasi angin kencang dan gelombang pasang. Namun sebagai nelayan pancing rawe dasar, Dia berangkat melaut sejak subuh dan menepi maksimal sekitar pukul 10.00 siang. ”Hasil tangkapan lumayan bagus sehingga saya bisa menghidupi keluarga dengan perolehan ikan laut,” terang Asnari.
Saat tsunami, perahu milik Asnari terbawa ke daratan hingga seratus meter dari bibir pantai. Beruntung perahu tidak rusak parah. Perbaikan dilakukan pada bagian sayap atau cadik, sehingga saat ini sudah bisa kembali melaut mencari ikan. Dengan jarak jangkauan satu kilometer dari bibir pantai, Asnari kerap berangkat berombongan tiga nelayan, untuk bisa saling membantu, saat terjadi hal tidak diinginkan ketika melaut.