Program GEMA di Nagari di Sumbar Berjalan Lambat

Editor: Koko Triarko

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Privinsi Sumatra Barat, Zirma Yusri/ Foto: M. Noli Hendra 

PADANG – Gerakan Lima Ribu Membangun (GEMA) Nagari yang telah diluncurkan sejak 2016 oleh Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Privinsi Sumatra Barat, bersama sejumlah pihak, hingga 2019 ini masih berjalan lambat.

GEMA Nagari merupakan upaya Dinas Koperasi dan UKM untuk membangun koperasi di tingkat nagari/desa, dalam mewujudkan ekonomi masyarakat pedesaan yang lebih baik.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Privinsi Sumatra Barat, Zirma Yusri, menjelaskan, konsep GEMA Nagari merupakan suatu gerakan untuk menggugah kepedulian anak nagari, baik yang berada di Sumatra Barat maupun yang berada di perantauan.

Tujuannya untuk membangun dan berpartisipasi membangun perekonomian masyarakat yang berdomisili di nagari/desa di kampung halamannya.

“Jadi, melalui GEMA Nagari itu melalui inisiatif pemerintah, masyarakatnya itu mengimbau masyarakat Minang, baik yang ada di daerah  ini maupun di perantauan, untuk berkontribusi bagi kampung halaman, dengan cara memberikan donasi kepada koperasi yang dibangun,” katanya, Senin (21/1/2019).

Namun, setelah berjalan selama tiga tahun berjalan, Zirma mengaku sejauh ini untuk perkembangan GEMA Nagari di Sumatra Barat masih terbilang lambat. Alasannya, masih ada beberapa kendala di lapangan, salah satunya penyediaan tekonologi informasi.

Untuk itu, saat ini Diskop dan UKM Provinsi Sumatra Barat tengah memperabaiki sistem dan mekanisme, dalam menjalankan GEMA Nagari.

“Jadi, dalam sistem dan mekanisme GEMA Nagari, itu koperasi yang ada di nagari itu membuka rekening bank. Tujuannya bisa menjadi tempat pengiriman uang yang bisa dibantu oleh masyarakat atau perantau, untuk koperasi di nagari itu. Artinya, koperasi itu dibangun bersama anak nagari dan perantau,” ujarnya.

Persoalan saat ini, masyarakat di nagari terkendala untuk memiliki peralatan tekonologi informasi, seperti laptop sebagai peralatan untuk menjalankan koperasi, tidak mampu dimiliki oleh masyarakat. Untuk itu, Diskop dan UKM Provinsi Sumatra Barat, tengah merancang supaya ada kreativitas, dari tidak mampu membeli laptop, bisa menggunakan android.

Menurutnya, dengan perkembangan tekonologi, seperti andorid, sudah bisa mengganti sedikit banyaknya fungsi dari laptop. Maka, Zirma menyatakan perlu adanya perbaikan, dan kepada masyarakat diminta untuk bisa memiliki andorid, sebagai fungsi awal menjalankan koperasi di nagari.

“Android kini itu, bisa melakukan berbagai hal. Jadi, akan sangat terbantu menggunakan andorid dalam hal menjalankan koperai di nagari. Sehingga, bisa mengetahui kondisi finansial di koperasi yang dibangun, dan mengetahui uang masuk yang dikirim oleh perantau,” ucapnya.

Zirma mengaku, sejauh ini belum mengetahui berapa unit koperasi di nagari yang dibangun dari GEMA Nagari. Untuk itu, pada 2019 ini, Diskop dan UKM Provinsi Sumatra Barat akan membuat semacam intruksi kepada Gubernur Sumatra Barat, supaya Pemerintah Nagari bergerak membangun koperasi.

“Namun, sebelum intruksi dilakukan, Diskop dan UKM perlu melakukan sosialisasi terkait penggunaan andorid, dalam menjalankan sistem dan mekanisme di koperasi,” katanya.

Ia menjelaskan, nantinya setelah adanya intruksi dari Gubernur Sumatra Barat, maka di setiap daerah kabupaten dan kota menugaskan wali nagari untuk membangun koperasi, apalagi sudah tiga tahun berjalan, sehingga perlu adanya komitmen kembali untuk mensukseskan GEMA Nagari ini.

Dsikop dan UKM melihat, sejauh ini ada beberapa pihak yang menilai koperasi di nagari/desa tidaklah perlu, karena dengan adanya Badan Usaha Miliki Desa (BUMDes), tidak diperlukan lagi adanya koperasi, sebab peran dari koperasi dan BUMDes bisa dikatakan hampir sama.

“Sebenarnya, koperasi di desa itu jauh berbeda dengan BUMDes. Koperasi jelas ada aturan yang mengaturnya, sementara BUMDes merupakan sebuah program dari Kementerian Desa, aturan keberadaannya hanya ada di bagian-bagain aturan-aturan yang telah ada itu,” sebutnya.

Zirma menilai, untuk menjalankan koperasi di nagari, karakter dari masyarakatnya perlu disosialisasikan. Karakter yang dimaksud, bahwa GEMA Nagari hadir untuk membangun ekonomi di pedesaan, yang hadir di masing-masing kampung halaman.

Caranya, masyarakat atau pun perantau dapat meletakkan uang ke koperasi yang ada di kampung halamannya. Dengan adanya uang itu, bisa dipainjamkan ke masyarakat untuk berbagai kebutuhan, seperti menjalankan usaha masyarakat di pedesaan.

Untuk itu, GEMA Nagari dinilai cara yang ampuh, untuk membangun ekonomi masyarakat di pedesaan.

“Saya melihat GEMA Nagari ini akan menjadi sebuah masa depan yang bagus. Memang kini berjalan lambat, tapi jika perlahan-lahan dilakukan dengan baik, GEMA Nagari akan mempu menjadi harapan ekonomi masyarakat di pedesaan. Artinya, tidak ada yang mubazir GEMA Nagari ini, tapi suatu hal yang sangat bermanfaat,” jelasnya.

Lihat juga...