MAUMERE — Kabupaten Sikka merupakan salah satu wilayah yang sangat cocok untuk dijadikan areal pengembangan rumput laut, khususnya di dalam kawasan gugus pulau Teluk Maumere.
“ Kita memiliki potensi yang cukup besar,” sebut bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo, Jumat (25/1/2019).
Potensi untuk budidaya, kata Robi sapaannya, kurang lebih 2 ribu hektare. Untuk 2019 pemerintah menargetkan 100 hektare lahan rumput laut dengan memberdayakan wilayah desa, khususnya yang berada di tepi pantai.
“Sebanyak 34 desa bekas program Coremap di dinas Kelautan dan Perikanan kita bisa berdayakan untuk kegiatan program penanaman kembali. Budidaya ini sempat terhenti akibat penyakit,” sebutnya.
Pada 1967 hingga 1968 kata Robi, warga desa Perumaan bisa membangun masjid dari rumput laut. Masyarakat mengumpulkan kemudian dijual ke Makasar dan hasil penjulan itu mereka bangun mesjid. Kemudian dalam perkembangannya ada budidaya tetapi masih kecil-kecilan.
“Pada 1984, kabupaten Sikka mendapat Hak Perolehan Hutan (HPH) Teluk Maumere. HPH itu sampai sekarang masih ada dan menjadi kawasan konservasi,” bebernya.
Aspek historis terus berlanjut dan dimulai dengan program besar-besaran yaitu Coremap (Coral Reef Rehabilitation Management Program). Pulau Kojadoi menjadi perintis dan memproduksi rumput laut dalam jumlah yang sangat besar
“Peristiwa Greentonik yang menurunkan harga pasar sehingga yang dihasilkan oleh kabupaten Sikka tidak dibeli. Ini yang membuat petani tidak mau membudidaya rumput laut akibat terserang penyakit,” jelasnya.
Rumput laut ungkap Robi, sebenarnya indikator utama dalam menilai ekosistim sumber daya laut. Kalau sehat dan dipanen secara terus – menerus ini menunjukan bahwa ekosistem semuanya baik, mulai dari airnya, sanitasinya, arusnya dan ekosistem pendukungnya.
“Kalau sampai tidak bisa hidup sehat, banyak kejanggalannya dan ekosistemnya ada yang bermasalah. Yang bermasalah selama ini lebih kepada soal perilaku manusia,” tegasnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere Dr. Ir. Angelinus Vincentius,MSi mengungkapkan, dalam pengembangan budi daya rumput laut untuk kesejetahteraan masyarakat perlu adanya sinergi berbagai pihak.
“Penting bergerak bersama dari hulu sampai hilir yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, manajemen mengelolaan secara intergrasi membawa dampak harmoni yang akan meningkatkan produktivitas, mengeliminir permasalahan baik teknis maupun non teknis,” sebutnya.