KPRI Kencana Bkkbn Solok, Tetap Harapkan Ada Tabur Puja

Editor: Mahadeva

Ketua KPRI Kencana Bkkbn Kabupaten Solok, Mikrat Joni, saat ditemui di Kantorny, Sabtu (26/1/2019) / Foto: M. Noli Hendra 

SOLOK – Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) Kencana Bkkbn Kabupaten Solok, Sumatera Barat, tetap menginginkan program Tabur Puja dapat berjalan di daerahnya.

Meski kondisi Tabur Puja terpantau pelaksanaan cukup goyang, menghadapi karakter masyarakat yang hanya memanfaatkan dana, dan tidak mau berusaha menjalankan program dengan benar. Dibutuhkan, peran pemerintah untuk membantu membenarkan sudut pandang masyarakat tersebut.

Ketua KPRI Kencana Bkkbn Kabupaten Solok, Mikrat Joni, mengatakan, Tabur Puja adalah sebuah hal yang dapat membantu masyarakat kurang mampu di daerah Solok. Sistem pinjaman dana bernilai kecil, yakni Rp1 juta hingga Rp2 juta, serta syarat pinjaman yang hanya KTP dan Kartu Keluarga (KK), program tersebut sebenarnya menunjukkan bahwa Tabur Puja memiliki itikad baik membantu masyarakat.

“Sayangnya keberadaan Tabur Puja ini tidak dipandang sebuah hal yang dapat membantu masyarakat di sini. Dulu waktu Tabur Puja baru-baru masuk di Solok, memang geliat usaha masyarakat tumbuh dengan baik. Tapi setelah lama kelamaan, ternyata semakin tidak beres saja,” tandas Mikrat Joni, Sabtu (26/1/2019).

Hingga beberapa tahun terakhir ini, kondisi Tabur Puja di Solok, bisa dikatakan tidak ada pergerakan yang berarti. Hal itu disebabkan, ekonomi masyarakat yang terlihat kurang bergeliat. Tidak diketahui penyebab menurunnya ekonomi masyarakat, apakah dikarenakan daya beli yang turun, atau karena inovasi dari pedagang yang tidak ada.

“Kondisi yang demikian telah saya dengar langsung dari Manajer Tabur Puja Solok. Jadi kondisi benar-benar kurang bagus. Cara yang bisa kita lakukan supaya kondis ekonomi lemah ini bisa membaik, berharap kepada pemerintah setempat, turut mendorong pelatihan dan pembinaan UMKM,” sebutnya.

Mikrat menyebut, sudah seharusnya pemerintah ikut membantu UMKM. Mungkin telah ada program yang dijalankan oleh pemerintah, namun bisa saja belum merata. “Jika bisa khusus yang menjadi anggota Tabur Puja ini kita data, diserahkan ke pihak pemerintah, supaya khusus untuk palaku UMKM berkesempatan dibina. Artinya jika telah dibina, ekonomi masyarakat akan mulai membaik, dan dampak positifnya akan dirasakan oleh Tabur Puja,” jelasnya.

Jika tidak segera, atau upaya yang bersifat urgent, maka situasi dan kondisi yang dialami oleh Tabur Puja Solok, bisa-bisa sangat mengkhawatirkan. Dikhawatirkan program tersebut bakal tutup buku, dalam waktu dekat. Mikrat menyebut, cukup banyak persoalan yang dihadapi oleh Tabur Puja. Semuanya itu bersumber dari penyebab tingginya NPL (non performing loan) atau tunggakan kredit yang mencapai Rp800 juta. Sementara uang yang diputarkan hanya Rp3 miliar per tahun.

Tunggakan muncul dipengaruhi banyak hal, seperti adanya usaha yang tidak berkembang dengan baiknya, ada yang sengaja sekedar memanfaatkan pinjaman uang saja, hingga adanya pemalsuan tanda tangan oleh ketua kelompok Tabur Puja, guna meraup keuntungan. “Meski Tabur Puja di Solok baru berjalan beberapa tahun, sungguh saya cukup khawatir dengan keberadaan Tabur Puja ini. Jika begini terus, bisa-bisa pihak dari Yayasan Damandiri menutup Tabur Puja di Solok ini,” jelasnya.

Di Solok, saat ini ada 23 Kelompok Tabur Puja dan dengan total anggota 2.133 orang. Jumlah tersebut, pada dasarnya, menunjukan belum ada perkembangan yang berarti di Tabur Puja Solok.

Lihat juga...