Bekasi Dorong Optimalisasi Bank Sampah

Editor: Koko Triarko

BEKASI – Pemerintah Kota Bekasi, Jawa Barat, melalui Dinas Lingkungan Hidup, terus mendorong pertumbuhan Bank Sampah di wilayah setempat. Hal tersebut menimbang masih terbatasnya truk angkutan sampah untuk mengantar ke lokasi tempat pembuangan Akhir (TPA) di Sumur Batu.

“Saat ini, kondisi TPA Sumur Batu, overload. Sehingga dibatasi, dengan memberdayakan bank sampah yang ada di tingkat RT/RW,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Jumhana Luthfi, Rabu (16/1/2019).

Menurutnya, jumlah Bank Sampah yang ada di Kota Bekasi, tercatat 230 unit, tersebar di RW. Sedangkan mobil sampah hanya mampu mengangkut 900 ton per hari, sedangkan total sampah setiap harinya di Kota Bekasi mencapai 1.900 ton.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Jumhana Luthfi -Foto: M Amin

“Kendaraan operasional truk sampah, ada 240 unit. Jumlah itu mencakup bantuan 55 unit truk sampah dari DKI Jakarta. Sehari hanya mampu mengangkut 900 ton sampah ke TPA Sumur Batu,” kata Jumhana.

Hal lainnya, lanjutnya, saat ini pemerintah pada 2019, mendorong agar di lokasi TPA Sumur Batu, dibangun pengolahan sampah melalui teknologi modern, untuk mengurai gunungan sampah yang ada di lokasi Sumur Batu.

Diketahui, mekanisme penguraian sampah di lokasi tersebut tergantung dengan alat berat untuk memadatkan atau mengurainya. Sementara, volume sampah pada 2018 yang dibuang di TPA Sumur Batu mengalami lonjakan mencapai 900 ton per hari, dari tahun sebelumnya yang hanya 600 ton.

Jumhana mengimbau kepada masyarakat Kota Bekasi, dapat berpartisipasi dalam menjaga lingkungan dengan memisahkan jenis sampah melalui bank sampah. Sehingga selain bisa dimanfaatkan, juga bisa mengurangi volume sampah di Kota Patriot.

“Saya yakin, jika masyarakat bisa sadar dengan memanfaatkan bank sampah,  akan mampu mengurai masalah gunungan sampah di TPA Sumur Batu. Untuk itu, diharapkan sekali kesadaran dan peran serta masyarakat dalam mengurai sampah sebelum dibuang,” tegas Jumhana.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengakui kegagalan Kota Bekasi dalam mempertahankan Adipura, karena DLH masih belum mampu mendorong kesadaran masyarakat untuk mengubah mental dan partisipasi mengurai sampah rumah tangga.

“Saya sudah sampaikan siap dievaluasi atas gagalnya Kota Bekasi mempertahankan Adipura, jika diganti tentu sebagai pejabat selalu siap. Saya gagal, kok,” pungkasnya.

Lihat juga...