Gren Mahe, Ucapan Syukur Etnis Tana Ai Mahe Kringa
Editor: Koko Triarko
MAUMERE – Empat suku yang mendiami Desa Kringa, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, sejak Jumat (30/11) hingga Sabtu (1/12) menggelar ritual adat Gren Mahe, yang kembali dilaksanakan sejak lima tahun sebelumnya.
“Ritual adat Gren Mahe ini diadakan di Mahe Kringa, yang terdiri dari empat suku, yakni suku Kringa, Liwu, Lewar dan Aur. Ritual dilaksanakan di Mahe, tempat pemujaan dan pelaksaan ritual adat,” sebut Laurensius Rogan Liwu Tana Puan, atau kepala suku etnis Tana Ai Kringa, Minggu (2/12/2018).
Rensu, sapaan Tana Puan ini, menyebutkan, Gren Mahe merupakan sebuah ritual untuk menghormati wujud tertinggi (Amapu), leluhur dan alam. Gren Mahe dilaksanakan selama tiga, lima, tujuh atau sembilan tahun sekali, yang penting angkanya ganjil.
“Suku Kringa berperan sebagai Tuan Tana atau Tana Puan, suku Liwu Watu Miring dan suku Lewar memiliki peran Leba Bako Wara Wair memberi makan minum bagi peserta yang hadir saat acara adat Gren Mahe,” tuturnya.
Suku Lewar juga berperan sebagai Tabak Waning, membuat gendang yang dipergunakan saat ritual adat, dan selesai ritual disimpan di Lepo atau rumah yang ada di Mahe. Sedangkan suku Aur berperan sebagai Tuku Wutur Raka Bai, perintis jalan.
