Tari Urang Puan Wair Matan, Pesan Lestarikan Lingkungan
Editor: Satmoko Budi Santoso
MAUMERE – Festival seni dan budaya se-daratan Flores dan Lembata yang baru selesai digelar mengantarkan sanggar seni SMASK Bhaktyarsa Maumere meraih peringkat ketiga penampil terbaik dengan meraih nilai 2.470.
“Mewakili kabupaten Sikka, kami menampilkan tarian Urang Puan Wair Matan yang mengisahkan tentang proses penanaman pohon untuk penghijauan mata air di Desa Wolomotong Kecamatan Doreng,” sebut Wempianus Seda, pelatih tari SMASK Bhaktyarsa Maumere kepada Cendana News, belum lama ini.
Wempi, sapaannya, menyatakan, akibat kemarau yang cukup panjang, masyarakat berusaha untuk mengatasi permasalahan lingkungan. Aktivitas masyarakat ini kemudian diadaptasi dan dijadikan tarian.

“Ini tarian tradisional dan kami sesuaikan dengan seni pertunjukan. Kami memakai gerakan dasar yang diambil dari tarian Hegong asal Sikka. Ada level-level dalam tarian ini yang agak sulit, termasuk segi penghayatan dalam menarikannya,” ungkapnya.
Ada sekitar 17 ragam dalam tarian ini dan disesuaikan dengan 3 level dalam tarian yakni bagian bawah, tengah dan puncak. Gerak tari saat berada di lantai panggung, di bagian tengah serta atas.
“Para penari setiap minggu berlatih menari dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Ada 10 penari dimana 4 penari lelaki dan 6 penari perempuan dan juga ada 4 pengiring musik,” paparnya.
Alat musik yang dipergunakan, sebut Wempi, berupa gong Waning. Juga digunakan bambu untuk tiupan seperti bunyi burung serta memakai Nyiru (nampan) untuk menapis beras guna memberi warna musik saat aktivitas pagi hari.
Para penari terlihat mengenakan kain tenun dan baju yang dimodifikasi untuk penari perempuan, sementara penari lelaki mengenakan kain tenun dan bertelanjang dada.
“Kalau sulit memang cukup sulit, sebab tidak semua penari berasal dari Sikka. Belum terbiasa dengan tarian Hegong. Namun semangat dalam membawakannya membuat mereka tampil maksimal,” tuturnya.
Wempi berharap agar pemerintah lebih bijak lagi dalam mengelola dan mengembangkan seni sebab banyak sekali seniman di kabupaten Sikka, namun wadah untuk menyalurkannya masih kurang.
“Perhatian pemerintah kepada sanggar seni, baik di sekolah maupun di masyarakat, masih sangat kurang. Dalam hal pembinaan,” kritiknya.
Suster Marcelina Lidi, SSpS, kepala sekolah SMASK Bhaktyarsa Maumere mengatakan, selama mengikuti festival, kualitas festival seni budaya Flores masih jauh dari bagus.
“Tidak ada persiapan yang baik. Saya sejak awal tidak tertarik sebab penataan panggungnya kurang bagus. Prosesnya benar-benar tidak bagus. Kalau seni budaya atau musik tradisional memang sangat bagus melatih anak untuk kembali ke identitas diri, tidak sombong dan melihat diri apa adanya,” terangnya.