Permintaan Sayur Organik di Lampung Selatan Semakin Tinggi
Editor: Mahadeva WS
LAMPUNG – Kebutuhan sayuran organik, yaitu hasil pertanian tanpa pupuk kimia, semakin tinggi di masyarakat Lampung Selatan. Ida, salah satu ibu rumah tangga di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan menyebut, sayuran organik menjadi pilihan sumber asupan gizi, di saat bahan pangan instan semakin banyak.
Ida biasa mendapatkan sayuran organik seperti kacang panjang, sawi, tomat, terong yang ditanam petani di dekat rumah miliknya. Pilihan membeli sayur organik karena ia melihat cara bertani organik tersebut.
“Salah satu cara untuk mengetahui sayuran yang saya konsumsi terkontaminasi zat kimia atau tidak tentunya dengan melihat langsung proses penanamannya, selain dalam kondisi segar, sayuran yang saya peroleh terjamin keamanannya,” tandas Ida, yang ditemui Cendana News sedang membeli sayur di salah satu petani, Senin (5/11/2018).
Bercocok tanam sayur sistem tumpangsari di lahan padi, di Desa Ruang Tengah, menjadi salah satu cara petani terutama wanita, memanfaatkan lahan semaksimal mungkin. Petani, menggunakan lahan untuk menanam sayur kacang panjang, tomat, kemangi, kedelai, kacang hijau serta sejumlah sayur lain, untuk menambah penghasilan.

Penanam sayur organik, Sunanti, memanfaatkan pematang sawah untuk menanam sayur. Pematang yang selama ini dibiarkan menganggur, ditanami sayur sejak empat tahun terakhir.
Dibantu sang suami, Suroso, Sunanti mengembangkan pola penanaman padi sistem jajar legowo. Penggunaan pupuk kimia saat ini mulai dikurangi, seiring dengan banyaknya permintaan terhadap padi semi organik dan sayuran organik. Selain ditanam sayur, pematang juga ditanami bunga diantaranya bunga keningkir, bunga matahari, bunga kertas. Keberadaan bunga tersebut menjadi tempat hidup sejumlah serangga predator alami hama tanaman padi. Hal itu menjadi cara untuk menggantikan pestisida pembasmi hama.