Menjajaki Prasasti Kerajaan Pagaruyung, Wisata Sejarah di Sumbar

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

PADANG — Peninggalan-peninggalan sejarah yang ada di Provinsi Sumatera Barat cukup menarik untuk dijajaki. Salah satunya, berada di Desa Kubu Rajo, Nagari Lima Kaum, Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, yakni Batu Basurek (tertulis) yang merupakan batu prasasti yang bertuliskan naskah Palava kuno India, menceritakan legenda Adityawarman pada tahun 1347.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Barat Oni Yulfian/Foto: M. Noli Hendra

Keberadaan batu itu berkaitan dengan kerajaan Pagaruyung yang ada di Tanah Datar. Prasasti itu bercerita tentang warisan Adityawarman. Karena jasanya kepada Kerajaan Majapahit, ia menjadi raja di Dharmasraya dan memindahkan kerajaannya dari Siguntur Sawahlunto ke Pagaruyung.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Barat, Oni Yulfian menjelaskan Batu Basurek itu memiliki tinggi 25 cm, lebar 80 cm, dan tebal 10 cm. Didirikan di atas makam Raja Adityawarman berabad-abad lalu. Batu ini ditemukan kembali pada 16 Desember 1880.

“Batu Basurek merupakan salah satu peninggalan sejarah yang ada di Kawasan Batusangkar Sumatera Barat. Batu ini diyakini berasal dari zaman Kerajaan terdahulu dan sudah berumur 6 abad lebih. Batu Basurek menggunakan tulisan jawa kuno dan ditulis dalam bahasa Sansekerta,” katanya, Minggu (4/11/2018).

Secara harfiah, Batu Basurek berarti Batu bertulisan. Jadi, Batu Basurek dapat berarti batu yang memiliki tulisan dan menyampaikan suatu pesan tertentu.

Batu Basurek adalah salah satu peninggalan sejarah, yang membuktikan keberadaan dan kejayaan Kerajaan Pagaruyung di Sumatera Barat di masa lalu. Adityawarman adalah anak dari Dara Jingga, yang berasal dari daerah Dharmasraya, di tepi Sungai Batang Hari Jambi. Namun, saat ini Dharmasraya adalah salah satu kabupaten di Propinsi Sumatera Barat. Ayah Dara Jingga masih kerabat dekat Kerajaan Singosari.

“Tidak diketahui pasti kapan dan siapa yang menulis pesan di atas batu ini. Namun, ada yang memperkirakan bahwa batu ini ditulis sekitar tahun 1347. Prasasti ini semakin memperkuat bukti keberadaan dan kekuasan Adityawarman di Batusangkar,” ujarnya.

Namun, prasasti ini tidak memberikan informasi yang jelas mengenai cakupan wilayah kekuasaan Adityawarman pada masa itu, apakah hanya sebatas di Batusangkar atau mencakup seluruh wilayah Minangkabau. Namun, jika dirunut secara lebih rinci, raja-raja adat yang ada di hampir seluruh wilayah Provinsi Sumatera Barat masih memiliki garis keturunan dari raja-raja Pagaruyung.

“Hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa Adityawarman memang menguasai wilayah Minangkabau secara umum,” ungkapnya.

Apapun kontroversi di balik kekuasaan Adityawarman, objek wisata cagar budaya Batu Basurek semakin memperkaya pengetahuan tentang kajayaan Kerajaan Minangkabau di masa lalu.

Wisatawan bisa mengunjungi situs cagar budaya ini dalam satu rangkaian kunjungan ke Istano Basa Pagaruyung karena lokasinya berdekatan.

Sementara itu, salah seorang pengunjung yang pernah datang ke lokasi tersebut, Rudi Barmara menceritakan, suatu kebanggaan bisa mendatangi tempat peninggalan sejarah itu. Meski secara bahasa yang terukir di batu itu tidak bisa dipahaminya, namun ia cukup antusias berada di lokasi tersebut.

Menurutnya, keberadaan Batu Basurek ini terletak didesa Kubu Rajo Nagari Lima Kaum berjarak 4 km dari Batusangkar. Informasi yang tertera di sana ialah bahwa penemuan prasasti itu pertama kali ditulis pada 16 Desember 1880 oleh P.H. Van Hengst, Asisten Residen Tanah Datar.

“Jadi Prof. H Kern, seorang ahli dari Belanda. Ia orang yang pertama kali membahas prasasti dengan tulisan Jawa Kuno berbahasa Sansekerta itu. Pada 1917 dia menerjemahkan isinya adalah Adityawarman maju perkasa, ia penguasa Kanakamedinindra atau Suwarnadwipa (Sumatera atau Tanah Emas). Ayahnya Adwayawarman. Dia keluarga Indra.” jelasnya.

Lihat juga...