Gurih, Renyah Lento Gaplek Khas Lamsel

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Singkong atau ubi kayu, menjadi salah satu bahan pangan yang masih dibudidayakan di Lampung Selatan. Manfaatnya sebagai bahan pangan dalam kondisi segar untuk ubi goreng, keripik serta bahan kue dan lainnya, membuat singkong menjadi bahan pangan favorit bagi warga setempat.
Kreativitas dalam mengolah singkong pun beragam. Salah satunya seperti yang dilakukan Suyatinah (60), warga Penengahan, yang lento gaplek dari bahan singkong.
Menurutnya, lento merupakan salah satu camilan yang kerap dibuat oleh keluarganya saat tinggal di Yogyakarta. Lento umumnya terbuat dari kacang-kacangan yang dibuat perkedel dan digoreng.
Bahan baku yang disediakan dari bahan gaplek membuatnya memilih mengolah lento gaplek. Pembuatan gaplek sudah dilakukannya selama musim kemarau, dengan menjemur singkong yang sudah dikupas.
Singkong yang sudah dikupas dan dijemur menjadi gaplek, bisa disimpan lama pada wadah kedap udara. Saat akan diolah, gaplek terlebih dahulu direndam, agar lebih empuk dan bisa dibuat menjadi tepung.
Siti,menikmati lento gaplek goreng dalam kondisi hangat dan renyah dengan saos tomat -Foto: Henk Widi
Bahan pembuatan lento selain gaplek singkong yang sudah ditepung, kata Suyatinah, di antaranya kelapa, bawang putih, bawang merah, kencur, garam, kacang tanah serta ketumbar. Tambahan daun bawang atau selederi, dan daun jeruk kerap diberikan untuk menambah aroma.
“Semua bahan tersebut disiapkan dengan tahapan pembuatan parutan kelapa, menghaluskan bumbu dan membuat bulatan lento dengan cara dikepal menggunakan tangan sebelum digoreng,” terang Suyatinah, saat ditemui tengah membuat lento gaplek, belum lama ini.
Ia menjelaskan, tahapan pembuatan lento dimulai dengan memarut kelapa, selanjutnya dicampurkan dengan tepung gaplek hingga merata. Setelah kedua bahan tercampur, proses pembuatan bumbu bisa dilakukan dengan menghaluskan ketumbar, garam, bawang putih, bawang merah dan kencur. Bahan tambahan berupa kacang tanah dicampurkan pada bumbu, dan dihaluskan hingga tercampur merata.
Semua bumbu yang sudah halus, selanjutnya ditaburkan pada bahan tepung gaplek serta parutan kelapa. Proses menguleni dilakukan untuk meratakan komposisi bumbu, kacang hingga tercampur sempurna menggunakan air.
Air ditambahkan perlahan, agar semua bahan tercampur sempurna, selanjutnya dibuat menjadi adonan dengan proses mengepal berbentuk bulat atau oval. Setelah dibentuk bulat, lento singkong bisa digoreng hingga berwarna kecoklatan.
Lento gaplek yang sudah digoreng, memiliki tekstur lembut pada bagian dalam dan renyah pada bagian luar. Rasa gurih dari parutan kelapa dan paduan kacang tanah, membuat camilan tersebut kerap disajikan sebagai menu sarapan.
Sebagai variasi untuk penyajian lento gaplek, Suyatinah kerap menambahkan cabai hijau serta saos tomat sebagai cocolan saat menikmati lento gaplek dalam kondisi hangat. Sajian dengan kuah cuka empek-empek, juga bisa menjadi pilihan untuk menikmati lento gaplek yang renyah tersebut.
Siti, salah satu warga yang menikmati camilan lento gaplek mengaku makanan tersebut sepintas seperti perkedel pada umumnya. Namun jika biasanya ia kerap menyantap perkedel dari kentang, namun pada camilan lento terbuat dari tepung gaplek. Ciri khas rasa gaplek diakuinya sangat terasa pada kenyalnya tepung singkong, dan renyahnya kacang berpadu dengan bumbu membuat lento gaplek terasa lezat.
Lento gaplek yang sudah dibuat menjadi bulatan digoreng hingga matang -Foto: Henk Widi
“Gurih dan renyah biasanya saya menikmati gaplek dalam bentuk tiwul, namun lento gaplek ternyata sangat enak,” beber Siti.
Lento gaplek yang disantap dalam kondisi hangat dengan cocolan saos tomat, kata Siti, menambah kelezatan lento gaplek. Ia bahkan menikmati lento gaplek menggunakan saus cuka yang kerap digunakan untuk menyantap empek-empek.
Kelezatan lento gaplek dengan beragam bumbu tersebut, selain bisa dipergunakan untuk camilan, juga menjadi teman makan nasi sebagai makanan tradisional berbahan singkong.
Lihat juga...