Bantu Pemasaran, Tiga Perempuan ini Buka Sentra Produk UKM Sikka

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

MAUMERE — Berangkat dari keinginan luhur untuk membantu mempromosikan produk lokal, tiga perempuan yang terdiri dari Sonya da Gama, Enci Florensia dan Angelina Seda membuka sebuah toko oleh-oleh yang memasarkan kerajinan dari UKM Sikka.

“Nama Toko Oleh-oleh Kita sengaja kami pilih sebab kami bertiga yang mendirikan toko ini. Selain itu nama Kita juga bermakna bahwa toko ini milik semua pengrajin di Sikka, menggambarkan kebersamaan dan saling membantu,” sebut Sonya da Gama, Selasa (13/11/2018).

Sonya saat berbincang dengan Cendana News di kantornya mengatakan, banyak pengrajin pelaku UKM di Sikka yang kesulitan untuk memasarkan produk mereka.

“Ini yang membuat banyak pengrajin tidak menekuni profesi mereka dan beralih mencari nafkah dengan bekerja di kantor dan lainnya,” sebutnya.

Disebutkan, rata-rata wisatawan yang datang ke Sikka juga ingin membeli oleh-oleh namun tidak tahu mau membeli kemana.

Berangkat dari permasalahan tersebut, 10 Oktober 2018 mereka membuka toko dengan menempati bangunan bekas kantor Merpati di kelurahan Kota Baru Maumere.

“Kami didukung penuh oleh teman-teman di PHRI, Asita, Tourism Management Organization, tour guide hingga Kelompok Kreatif Maumere,” sebut Enci Florensia.

Pelaku UKM, terang Enci, menitipkan barangnya dan pihaknya bertugas menjualnya kepada pembeli, baik di Sikka maupun ke luar daerah.

Meski memanfaatkan tempat terbatas, namun penjualan produknya terbilang lumayan. Dalam sebulan sudah mulai banyak yang membeli berkat promosi melalui online dan jalinan pertemanan dengan pelaku pariwisata.

“Kami hanya mengambil untung sedikit, yang terpenting produk pengrajin terjual agar mereka semangat berkarya,” paparnya.

Enci menyebutkan, untuk Mauamere sendiri banyak toko oleh-oleh namun belum berkembang maksimal dan masih menjual di satu produk.

“Kita berharap ada peran serta dari pemerintah, sebab toko oleh-oleh menjual produk daerah sehingga pemerintah harus memperhatikan pengrajin kecil,” pintanya.

Perhatian tersebut, sebut Enci, bisa berupa pelatihan terkait kualitas dan selera pasar, agar bisa bersaing dengan produk sejenis dari luar daerah.

“Pelatihnya yang datang ke Maumere untuk memberikan pelatihan agar banyak pengrajin di Sikka yang mendapatkan ilmunya. Kalau mengutus pengrajin mengikuti pelatihan tentu hanya beberapa orang saja yang bisa dikirim ke luar daerah,” tegasnya.

Semua pengrajin, tambah Enci, harus diberi kesempatan untuk belajar, termasuk mengikuti pameran ke luar daerah.

“Tetapi yang paling penting pengrajin bisa membandingkan produk yang dihasilkan dengan produk dari daerah lain. Juga untuk membuka jaringan pemasaran,” ungkapnya.

Lihat juga...