Angka Kematian Bayi di Sikka Masih Tinggi
Editor: Mahadeva WS
MAUMERE – Angka kematian bayi di Kabupaten Sikka masih tinggi. Di 2018, hingga September sudah 58 bayi meninggal dunia.

“Memang angkanya masih tinggi, kita berharap, sampai Desember 2018 nanti, tidak terjadi lagi kematian ibu dan bayi,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, dr. Maria Bernadina Sada Nenu, MPH, Jumat (16/11/2018).
Dari catatannya, kematian ibu sejak Januari sampai September 2018, dari 3.989 ibu bersalin, ada lima orang yang meninggal dunia. Menurutnya, semua berharap tidak terjadi lagi kasus kematian ibu saat melahirkan, dan Dinas Kesehatan Sikka berupaya memperbaiki pelayanan.
“Semua pihak kami libatkan, termasuk kepala desa dan Polindes untuk mendata ibu hamil di desanya. Aparat desa dan petugas kesehatan, bekerjasama memantau kondisi ibu hamil tersebut setiap hari, terutama jelang masa melahirkan,” ungkapnya.
Kurangnya konsumsi makanan bergizi selama mengandung hingga melahirkan, menjadi faktor yang membuat kondisi bayi dalam kandungan tidak sehat. Keluarga, terutama suami, harus berperan besar menyediakan makanan bergizi bagi ibu yang sedang mengandung.
Melalui momentum Hari Kesehatan Nasional (HKN) 2018, diharapkan semua masyarakat sehat. Tenaga medis pun harus sehat, sehingga siap melayani masyarakat dengan optimal. “Untuk menekan angka ini, dinas Kesehatan sudah menginstruksikan, tenaga kesehatan yang bertugas di desa agar tinggal dan menetap di tempat tugasnya, sehingga bila ada kejadian yang dialami ibu hamil, bisa segera melakukan pertolongan,” tegasnya.
Ibu hamil membutuhkan dukungan dan perhatian dari suami, keluarga dan masyarakat. Hal itu sudah dijabarkan dalam Peraturan Bupati Sikka, tentang Pembentukan Tim Jejaring Kesehatan Ibu dan Anak tingkat Kabupaten Sikka. “Sudah ada perjanjian antara camat dan Kepala Puskesmas, Bidan Desa dengan Kepala Desa, dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak sehingga terwujudnya keluarga sehat dan sejahtera secara fisik, psikis, sosial dan ekonomi,” paparnya.
Oleh sebab itu, pemerintah desa dan kelurahan, perlu membentuk sistem kesiap siaga-an hingga tingkat RT dan dusun. Terutama untuk mengidentifikasi keberadaan ibu hamil, menyediakan transportasi, calon donor darah dan mengevaluasi pelaksanaan jejaring desa siaga, serta menentukan strategi pemecahan masalah.