Usaha Anyaman di Desa Bantala Lewolema Butuh Bantuan Pemda Flotim

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LARANTUKA — Usaha anyaman aneka wadah untuk menyimpan perlengkapan dapur serta makanan dan lainnya di desa Bantala kecamatan Lewolema kabupaten Flores Timur masih bertahan di tengah minimnya regenerasi.

“Kami sudah lama bisa menganyam dan diwariskan secara turun temurun oleh orang tua sehingga sudah terbiasa menganyam berbagai wadah yang dibutuhkan,” sebut Theresia Aran, warga desa Bantala kecamatan leweolema, kabupaten Flores Timur, Selasa (16/10/2018).

Dikatakan Theresia, dalam menganyam, pihaknya hanya melakukan secara sendiri-sendiri tidak ada kelompok dan dilakukan secara rutin untuk memenuhi pesanan dalam jumlah banyak.

“Kami hanya menganyam seadanya saja untuk dijual di pasar tradisional di kota Larantuka atau di kecamatan Lewolema saja. Biasanya kalau ada acara-acara besar di kecamatan atau pesta, baru pihaknya mendapatkan pesanan dalam jumlah banyak,” ungkapnya.

Kalau ada pesta sebut Theresia, wadah dari anyaman dibutuhkan untuk meletakkan makanan, daging, bumbu masakan, beras serta berbagai perlengkapan lainnya dengan berbagai ukuran.

Goreti Ruron, perempuan desa Bantala lainnya mengatakan,wadah yang biasa dibuat terdiri dari Keleka untuk menapis beras, Soka untuk wadah menampung beras atau juga tempat sirih pinang dan perlengkapan lainnya.

“Untuk Keleka atau alat penapis beras berukuran besar dijual seharga Rp20 ribu, sementara yang kecil dijual seharga Rp10 ribu. Ada juga wadah untuk menyimpan beras atau padi berukuran besar bisa kami jual Rp40 ribu,” terangnya.

Ibu-ibu desa Bantala kecamatan Lewolema sedang menapis beras menggunakan Keleka, wadah dari anyaman daun Koli (Lontar).Foto : Ebed de Rosary

Untuk anyaman, terang Goreti, berasal dari daun Koli (Lontar) yang pohonnya banyak terdapat di desa dan tidak dipergunakan. Daun ini dikeringkan terlebih dahulu sebelum dianyam.

“Sehari kami bisa anyam sampai 2 buah Keleka atau Soka, wadah menapis beras dan menyimpan padi berukuran besar. Kami bisa anyam dalam jumlah yang banyak namun siapa yang membelinya,” ujarnya.

Goreti berharap agar pemerintah dapat membantu mereka untuk mencari order atau pesanan wadah dari anyaman daun Lontar agar dirinya bersama beberapa pengrajin lainnya mendapatkan pemasukan dari keterampilan menganyam.

“Kami bisa menganyam bentuk dan ukuran wadah sesuai keinginan pembeli asal ada contoh barangnya. Keterampilan kami bisa menjadikan pemasukan rutin asal pesanan selalu ada,” tuturnya.

Kalau warga disuruh mencari pasar dan menjual kerajinan tangan kata Goreti, tentu sebagai orang desa mereka merasa kesulitan dan tidak memiliki akses.Untuk itu dirinya berharap pemerintah bisa mengulurkan tangan melakukan pendampingan dan membuka akses pasar.

Lihat juga...