BANJARMASIN – Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, menyarankan perlunya pemanfaatan hasil hutan secara kreatif dan efektif, sehingga dapat terjaga kelestariannya.
Hal itu dikatakan Sutarto, dalam sambutannya saat membuka Seminar Nasional bertajuk “Optimalisasi Pemanfaatan Hasil Hutan Dalam Rangka Mendukung Program Revolusi Hijau” yang digelar di Banjarbaru, Senin (15/10/2018).
Menurut dia, ancaman tergerusnya hutan merupakan persoalan serius dan harus diantisipasi sedini mungkin dengan beragam upaya pelestariannya. ULM pun mendukung penuh gerakan revolusi hijau yang digelorakan Gubernur Kalimantan Selatan, H. Sahbirin Noor.
“Karena kayu yang dimanfaatkan secara masif akan habis. Di sisi lain, upaya penanaman kembali membutuhkan proses yang lama,” katanya.
Untuk itu, tambah Sutarto, hasil hutan nonkayu menjadi fokus ULM dalam pemanfaatannya untuk membuat bermacam produk unggulan dari bahan-bahan alam di hutan Kalimantan.
“Kita sudah membuat 41 produk hasil hutan nonkayu, seperti madu, teh dari kayu manis hingga pupuk organik. Dan, kegiatan riset untuk memanfaatkan bahan-bahan alam ini terus kita gaungkan, sehingga tidak lagi bergantung pada olahan berbahan kayu dari penebangan pohon,” tandasnya.
Sementara, Dekan Fakultas Kehutanan ULM, Ir. H. Sunardi, mengungkapkan, seminar nasional tersebut menjadi agenda tahunan pihaknya yang bekerja sama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel.
“Hasil diskusi dalam seminar ini bisa menjadi acuan pemerintah dalam mengambil langkah dan kebijakan soal penanganan, pelestarian dan pemanfaatan hasil hutan untuk kesejahteraan masyarakat, tanpa mengancam kelestarian hutan itu sendiri,” jelasnya.
Sunardi juga mengakui, bahan baku kayu dari hutan Kalsel sudah sangat menipis. Areal seluas 1,7 juta hektare kawasan hutan yang ditetapkan pemerintah tidak semuanya berhutan.
“Bahkan, sekarang kayu yang tumbuh di hutan sekunder yang dulu tidak dilirik juga ditebang. Ibarat kata, asal bisa dibikin kayu reng ukuran kecil pun dimanfaatkan. Termasuk pohon buah seperti durian juga sudah banyak dimanfaatkan jadi bahan kayu,” bebernya.
Dia juga mengatakan, apalagi upaya reboisasi kerap terkendala terbakarnya tanaman-tanaman yang masih kecil dari musim kemarau yang membakar kawasan hutan. Sehingga yang harusnya sebagai pohon pengganti di masa mendatang, gagal tumbuh besar sesuai harapan.
Seminar menampilkan enam pemakalah utama, terdiri dari Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Dr. Hanif Faisol Nurrofiq, yang mengangkat materi “Kebijakan Percepatan Perhutanan Sosial dalam mendukung Program Revolusi Hijau”.
Kemudian Prof. Dr. Eniya Listiani Dewi, Deputi Informasi Energi dan Teknologi Material BPPT dengan materi “Inovasi dan hilirisasi produk teknologi untuk industri hijau”.
Ada Ir. Yono Cahyono, dari Kepala Divisi Produksi dan Industri Perum Perhutani Jawa Timur, soal “Pemanfaatan hasil hutan dengan bisnis terintegrasi yang berkelanjutan”. Prof. Dr. Sri Nugroho Marsoem, Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM dengan materi “Pulp dan kertas di Indonesia”.
Selanjutnya, Prof. Dr. Ir. Yisuf Sudo Hadi, Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB dengan materi “Teknologi pemanfaatan asap kayu dan biopellet untuk revolusi hijau”, serta Wiwin Tyas Istikowati, dosen Fakultas Kehutanan ULM soal “Pemanfaatan layu lokal cepat tumbuh untuk mendukung program revolusi hijau”.
Dalam diskusi, turut menampilkan 48 pemakalah umum yang mempresentasikan hasil penelitian, pemikiran serta pengalaman di bidang teknologi hasil hutan dan bidang kehutanan terkait.
Pemakalah terbagi dalam tiga komisi, yaitu 13 pemakalah pada komisi A (Optimalisasi peningkatan kualitas dan diversifikasi hasil hutan). Sebanyak 10 pemakalah pada komisi C (Diversiifkasi energi baru dan terbarukan berbasis biomaterial kehutanan) serta 25 pemakalah pada komisi D topik lain yang relevan.
Ratusan peserta hadir mulai kalangan akademisi dari Fakultas Kehutanan, MIPA dan FKIP ULM. Kemudian Pertanian Universitas Palangkaraya, Pusat Penelitian Hasil Hutan Balitbang dan Inovasi KemenLHK, Balai Riset dan Standarisasi serta mahasiswa dan pemerhati lingkungan.
Nampak juga Guru Besar Fakultas Kehutanan ULM yang juga Menteri Riset dan Teknologi di Kabinet Indonesia Bersatu II, serta mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup RI, Prof. Dr. Ir. H. Gusti Muhammad Hatta MS. (Ant)