PKL di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Keluhkan Penurunan Omzet

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA — Sejumlah pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, tepatnya di Jalan Margo Mulyo, Kota Yogyakarta, mengeluhkan penurunan omzet penjualan pascarevitalisasi kawasan tersebut sejak beberapa bulan terakhir. 
Hal itu disebabkan lapak semi permanan yang mereka gunakan untuk bejualan selama puluhan tahun harus dibongkar, dan diganti dengan gerobak portable kecil. Selain jumlah dagangan semakin berkurang, mereka kini juga tak lagi dapat menjual beberapa jenis dagangan tertentu.
“Tiga bulan terakhir ini, omzet kita turun drastis. Jika dulu sehari minim kita bisa dapat pemasukan Rp500 ribu, sekarang dapat Rp100 ribu sehari saja sudah bagus,” ujar salah seorang PKL, Diah (37), warga Bintaran, Kota Yogyakarta, Selasa (30/10/2018).
Diah, pedagang kaki lima kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, -Foto: Jatmika H Kusmargana
Diah menyebut, selama ini ia berdagang berbagai jenis koran, majalah, buku, rokok hingga minuman ringan, dengan memanfaatkan lapak semi permanen seluas kurang lebih 3 x 2,5 meter persegi. Namun setelah lapaknya dibongkar, ia kini hanya berjualan menggunakan gerobak kecil berukuran 1,2 x 2 meter persegi.
“Otomatis sekarang tak bisa jualan minuman ringan seperti dulu. Karena pakai lemari pendingin juga tidak bisa. Jadi hanya jualan rokok, koran dan buku saja. Itu pun jumlahnya terbatas. Tidak bisa sebanyak dulu,” katanya, yang mengaku sudah 10 tahun lebih berjualan di kawasan ini.
Ia dan 17 pedagang lainnya mengaku harus menyewa gerobak tersebut dari Koperasi Pegadang Kawasan Alun-Alun Utara sebesar Rp1,5 juta per tahun, karena bantuan gerobak dari Pemerintah Yogyakarta belum bisa diajukan pada 2018, ini.
“Memang Pemerintah berencana merapikan kawasan ini dengan menyeragamkan lapak pedagang menggunakan gerobak yang sama. Namun karena tahun ini belum ada anggaran, maka baru bisa dilakukan tahun depan. Karena itu, untuk sementara kita sewa, agar bisa tetap berjualan,” katanya.
Proses revitalisasi kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta dilakukan Pemerintah Yogyakarta, guna mempercantik kawasan tersebut. Sejumlah pohon perindang di kawasan itu ditebang, sehingga membuat kawasan lebih nampak terbuka.
Namun, sayangnya tidak adanya tanaman perindang pengganti membuat kawasan itu nampak begitu terik dan panas saat siang hari. Hal itu juga mempengaruhi tingkat keramaian kawasan tersebut saat pagi dan sore hari, hingga menjadi faktor penurunan omzet pedagang.
“Karena tidak ada perindang sama sekali, jadinya kalau siang panas sekali. Apalagi gerobak kita semua terbuat dari seng. Selain itu, pemerintah juga melarang setiap pedagang memasang payung atau terpal, karena dari sisi estetika dinilai tidak bagus. Maka, ada sebagian pedagang hanya jualan saat sore dan malam hari saja,” katanya.
Lihat juga...