Lodo Ana, Pengakuan Anak Suku Raja Tuan Masyarakat Kawaliwu
Editor: Mahadeva WS
LARANTUKA – Festival budaya masyarakat adat Lewolema Nubun Tawa, memperkenalkan sebuah ritual adat yang dinamakan Lodo Ana, oleh masyarakat Kawaliwu Desa Sinar Hading, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur.
Proses ritual adat dimulai empat hari, sebelum ritual puncak, saat si anak yang akan dibuatkan ritual adat. Sang anak harus menemui pamannya dulu, baru ditentukan waktu kapan anaknya menjalankan ritual Lodo Ana. Sebelum ritual, si anak dan ibunya, tidak boleh terkena matahari.
Anak dan ibu tersebut sebelum proses adat dijalankan, dikurung di dalam rumah, dan ditempatkan di sebuah tempat khusus atau ruangan khusus. “Ritual ini adalah ritus kelahiran, untuk suku atau Klan Raja Tuan dari Suku Koten, Liwun dan Hurit dalam masyarakat adat Kawaliwu,” sebut Markus Ura Liwun, budayawan dan tetua adat Kawaliwu, Minggu (14/10/2018).
Dengan ritual adat tersebut, sang anak dinobatkan menjadi anggota suku Wuu Nuran. Hal itu ditandai dengan membawakan sang anak dan ibunya ke sebuah tempat terbuka, yang menjadi lokasi ritual. Tempat terbuka dipilih, agar prosesi ditonton dan dilihat banyak orang.
Sebelum dilaksanakan ritual Lodo Ana, paman dari si anak mengantar padi kepada si anak, sehari sebelumnya. Dan selama sebelum pelaksanaan Lodo Ana semua masyarakat disuguhi makanan ikan dan santan kelapa. “Pelaksanaan ritual Lodo Ana dilakukan sebelum anak berumur setahun. Tetapi kalau semua persyaratan sudah disiapkan maka sudah bisa mulai dilaksanakan ritualnya,” ungkapnya.
Ritual Lodo Ana dilakukan bila hewan yang menjadi syarat utama untuk disiapkan anggota keluarga seperti rusa dan babi hutan, harus sudah tersedia dan jumlahnya harus ganjil. Kalau rusanya 10, maka babi hutannya satu ekor. Kalau rusanya lima ekor maka babi hutan yang harus disiapkan enam ekor, sehingga bila dijumlahkan maka akan mendapatkan angka ganjil.

“Untuk anak pertama dalam Suku Raja Tuan baik Koten, Hurit dan Liwun, babi hutan dan rusa yang disiapkan harus berjumlah 11 ekor. Kalau anak kedua dan seterusnya jumlahnya bisa sembilan ekor, tujuh ekor dan seterusnya,” sebut Markus.
Kalau anak kembar, maka kurungan bagi si anak di dalam rumah juga berjumlah dua. Tempat makan di kurungan juga harus untuk dua orang, dan persyaratan rusa dan babi hutan pun harus beda juga. Tempat berburu kedua hewan, sejak dahulu disiapkan, sehingga rusa dan babi hutan hanya boleh ditangkap dari tempat tersebut. Tidak boleh berburu sembarangan, kecuali untuk persyaratan Lodo Ana. “Tempat ini selalu terjaga dan dilindungi sehingga hewan buruan selalu ada. Sebelum berburu pun harus memberi sesajen terlebih dahulu di tempat tersebut,” bebernya.
Hewan-hewan tersebut, dagingnya akan dibagikan kepada semua anak suku, saat ritual puncak Lodo Ana, dengan meletakannya di dalam bakul-bakul yang jumlahnya telah ditentukan. Sebelum pembagian daging, semua anak suku dan tamu yang hadir dalam kegiatan rangkaian ritual Lodo Ana, akan disuguhi makanan berupa ikan dan santan kelapa, sehingga tentunya dibutuhkan banyak ikan.
Nikolaus Sira Liwun menyebut, untuk menyelenggarakan ritual adat Lodo Ana membutuhkan sebuah persiapan yang cukup banyak. Hewan yang menjadi persyaratan, serta makan dan minum bagi semua anak suku yang hadir selama ritual berlangsung. “Bila persiapan cukup maka keluarga bisa melaksanakan ritual Lodo Ana sebab kalau tidak diadakan acara ini maka keluarga dan si anak tidak boleh memakan rusa, babi dan pisang,” ungkapnya.
Di dalam ritual itu, juga harus disiapkan sebuah pisang yang sudah matang lengkap, dengan jantung pisangnya. Dengan demikian, pohon pisang di desa tersebut pun harus dirawat. Memotong pisang harus hati-hati, agar jangan sampai buah pisangnya mengalami luka dan lecet, atau pisang tersebut jatuh mengenai tanah. “Makanya proses menebangnya pun harus hati-hati sekali termasuk membawa pisang tersebut ke rumah tempat ritual akan dilaksanakan,” jelasnya.
Esok hari, sebelum matahari terbit, sang anak sudah dibawa ke luar rumah, ke tempat upacara. Anak diletakan di sebuah tempat duduk, agar bisa ditonton oleh banyak orang. Saat moment tersebut, dilakukan pembagian singkong, pisang serta sedikit daging babi hutan, dan rusa, yang diletakan di dalam bakul. Bahan-bahan tersebut dibagi kepada semua anak suku.
“Sebelum makan, daging, pisang dan singkong, disimpan di dalam tempurung dan seorang ketua adat membalikan tempurung serta lesung. Ini dilakukan untuk memberi makan tanah (bumi),” ungkapnya.
Orang tua juga membawa nasi tumpeng (Mati), bersama santan kelapa dan ikan untuk ditutup di lesung, untuk memberi makan bumi. Bakul berisi makanan untuk dibagikan harus berjumlah ganjil. Bila anak pertama yang akan menjalani ritual maka wajib menyiapkan 11 bakul, sementara anak kedua dan seterusnya harus berjumlah ganjil misalnya sembilan, tujuh atau lima bakul.
“Segala pelaksanaan ritual adat ini dipimpin oleh tetua adat dari ketiga suku yakni Koten, Liwun dan Hurit. Berbagi makanan di dalam bakul diartikan sebagai ucapan syukur, berbagi kegembiraan dan kebersamaan sebagai sesame anak suku,” pungkasnya.