Kantung Spanyol di Afrika Utara Diserbu Ratusan Pengungsi
MADRID — Satu pengungsi Afrika tewas dan tiga lagi terluka sesudah sekitar 300 orang menyerbu pagar perbatasan, yang memisahkan daerah kantung Spanyol Melilla dari Maroko pada Minggu (21/10/2018).
Sekitar 200 pengungsi berhasil memanjat pembatas logam setinggi tujuh meter itu dan dibawa ke pusat penerimaan di Melilla, tempat pejabat memulai mendaftar mereka.
“Pria itu meninggal diduga karena serangan pernapasan-jantung meski dirawat layanan darurat,” kata pernyataan perutusan pemerintah setempat Spanyol.
Lebih dari 6.000 pengungsi berhasil mencapai Melilla dan wilayah terdekat, Ceuta, pada tahun ini, kata badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa UNHCR. Di beberapa tempat, pagar di sekeliling kantung itu dilengkapi kawat berduri.
Pada Minggu, kait kayu dan sepatu dipasangi paku untuk membantu pemanjatan ditinggalkan, bersama kaus oblong berlumur darah.
Lebih dari 40.000 orang tiba lewat laut di pantai selatan Andalusia itu sejak Januari, menjadikan Spanyol tujuan utama pengungsi di Eropa, dengan Eropa Bersatu gagal menanganinya.
Jalur kedatangan berubah sesudah Italia menekan kapal penyelamatan berlabuh di bandarnya dan kesepakatan Eropa Bersatu dengan Turki meredakan arus melintasi laut Aegea ke Yunani.
Sebagian besar kedatangan di Spanyol adalah pria, terutama dari Guinea, Mali dan Maroko, kata UNHCR.
Pada Sabtu, Spanyol mengembalikan ke Maroko 24 pengungsi, yang mencapai pulau Chafarinas, wilayah lain Spanyol di lepas pantai Afrika Utara, di bawah perjanjian dwipihak, yang ditandatangani pada 1992, yang menyatakan warga negara ketiga -yang masuk secara gelap- dapat dikembalikan dalam jangka waktu tertentu.
Perjanjian itu sangat jarang digunakan hingga musim panas ini, kapan 116 orang, yang menyerbu pagar Ceuta, dikembalikan. Kementerian Dalam Negeri Spanyol menyatakan aturan tersebut digunakan sekarang berkat kebaikan hubungan dwipihak. (Ant)