Puluhan Santri di Banjar Diduga Terserang Campak-Rubella
MARTAPURA – Puluhan santri sebuah pondok pesantren di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, diduga terserang penyakit campak dan rubella. Hanya saja dugaan tersebut belum diperkuat hasil uji laboratorium.
Pemeriksaan laboratorium diperlukan, untuk mengetahui apakah penyakit yang diderita para santri itu hanya campak biasa atau morbili. Atau jenis rubella yang sangat mudah menular. “Kami masih menunggu hasil uji laboratorium terhadap 53 santri yang diduga terserang campak atau rubella itu,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar Ikhwansyah, Selasa (11/9/2018).
Dinas Kesehatan Banjar sudah mengambil 17 sampel darah, untuk mengetahui jenis virus yang menyerang. Upaya mengetahui jenis virus juga dilakukan dengan mengambil sampel urine penderita. Kepastian jenis virus tersebut berhubungan dengan mekanisme penanganan pasien. “Jika hasil laboratorium sudah ada, baru bisa dipastikan penyakit yang diderita puluhan santri itu, sehingga bisa diambil langkah yang diperlukan untuk menangani mereka agar bisa sembuh,” jelasnya.
Tindakan yang sudah dilakukan terhadap para santri adalah, pengobatan dan pemberian vitamin A. Hal itu untuk meningkatkan daya tahan tubuh, menghadapi penyakit tersebut. Dinas kesehatan juga memberikan masker, untuk membantu mencegah penularan penyakit, yang sangat mudah menular melalui udara dan butiran air liur. “Tindakan yang diambil untuk mencegah penularan penyakit dari santri yang diduga terserang kepada santri lain yang belum terkena dan mereka juga sempat dikarantina di poliklinik pondok,” ucapnya.
Kasus campak maupun rubella yang diduga sudah menyerang santri tersebut, membuat Dinas Kesehatan Banjar, gencar menyosialisasikan pentingnya imunisasi campak dan rubella, untuk menghindari penyakit tersebut. “Sosialisasi akan gencar kami lakukan, apalagi rekomendasi dari pihak berkompeten sudah ada dan imunisasi diperbolehkan, diharapkan seluruh pihak terkait mendukungnya,” tandasnya.
Seluruh kelompok usia akan diberikan vaksinasi, mulai dari usia sembilan bulan sampai 15 tahun, yang diberikan baik melalui puskesmas maupun sekolah-sekolah dan pondok pesantren secara bergiliran. “Saat ini, capaian pemberian imunisasi di Kabupaten Banjar masih rendah dibandingkan kabupaten lain di Kalsel, yakni 16 persen sehingga harus ditingkatkan lagi melalui upaya sosialisasi,” kata Dia.
Dinas Kesehatan Banjar akan terus memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang imunisasi MR, sehingga terhindar dari penyakit berat maupun cacat, karena tidak mendapatkan vaksinasi penyakit itu. (Ant)