Papua Barat Prospektif Kembangkan Rumput Laut
MANOKWARI – Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat, mendorong peningkatan produksi rumput laut menyambut peluang pasar dalam dan luar negeri.
Gubernur Papua Barat melalui sambutan tertulis yang dibacakan Sekretaris Daerah Nataniel Mandacan pada workshop penguatan kemitraan pemerintah dan swasta untuk rumput laut, Senin, menyebutkan, pengembangan sektor kelautan memiliki fungsi strategis, bukan sekadar memberikan penghidupan bagi masyarakat pesisir.
“Namun bagaimana mereka juga mampu mengambil peran sebagai penyedia pangan, sandang, dan papan melalui potensi yang terkandung di laut Indonesia,” kata Gubernur dalam sambutan tersebut.
Menurut Gubernur, pembangunan di sektor kelautan secara berkesinambungan akan terwujud apabila mampu menempuh strategi perubahan yang mendasar di sektor ini.
Menuju pembangunan yang berkelanjutan pemerintah daerah membutuhkan dukungan elemen lain untuk mendorong kemampuan petani dan pengusaha di daerah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Petani harus didorong agar bisa mengakses pasar serta memperoleh keuntungan yang lebih besar.
Pembudidaya sebagai aktor perubahan harus memiliki orientasi yang jelas, menciptakan pembudidaya yang bisa berdayaguna, sehingga mampu berperan secara bertahap dan berkesinambungan.
Konsultan Bisnis Senior Promoting Rural Income Through Support for Markets in Agriculture (PRISMA), Oka Darma Arta, pada kesempatan itu mengatakan kebutuhan rumput laut di pasar global maupun dalam negeri terus meningkat. “Peningkatannya pun cukup besar. Ini adalah peluang dan Papua Barat punya potensi untuk menangkap peluang tersebut,” kata Oka.
Komoditas rumput laut, kata dia, yang dibutuhkan baik di pasar luar maupun dalam negeri. China menjadi negara penyerap terbesar di wilayah Asia.
Sejak tahun 2013 tren produksi rumput laut di Indonesia pun terus meningkat. Negara ini bahkan mampu mendominasi hingga 40 persen suplai pasar global.
“Produksi rumput laut di Indonesia tersebar di sejumlah wilayah. Sulawesi Selatan menjadi produsen terbesar diikuti Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Tenggara,” kata dia lagi.
Menurutnya, Papua Barat memiliki potensi cukup besar, namun belum bisa memproduksi dalam skala yang besar. Petani harus didorong dan sistem pasar harus dibentuk. (Ant)