Lampung Kuning untuk Kondisi Ketahanan Pangan Indonesia

Editor: Mahadeva WS

YOGYAKARTA – Deputi Bidang Pengembangan Strategik Lemhanas, Prof Djagal Wiseso Marseno menyebut, kondisi ketahanan pangan Indonesia saat ini sedang berada di pada tahap lampu kuning. Diartikannya, kondisi ketahanan pangan Indonesia dalam posisi mendekati bahaya. 

Hal itu dipengaruhi kondisi Indonesia sebagai sebuah negara, mengalami pelemahan sejak beberapa dekade terakhir. Dampaknhya, merembet ke berbagai hal lain, baik persoalan politik, sosial budaya, ekonomi, pertahanan dan keamanan, hingga soal pengelolaan sumber daya alam.

“Ketahanan pangan Indonesia saat ini bisa dikatakan kurang tangguh dan sudah lampu kuning. Karena 10 tahun terakhir ideologi kita juga sedang lampu kuning. Sehingga merambat ke hal lain,” ujarnya dalam Lustrum XI Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM, Selasa (18/09/2018).

Wakil Rektor Bidang Pengajaran Pendidikan dan Kemahasiswaan UGM itu menilai, perlu ada upaya serius untuk mengatasi kondisi ketahanan pangan Indonesia. Salah satu yang disarankannya adalah, memaksimalkan potensi yang belum termanfaatkan secara maksimal, seperti sektor kelautan.

Kepala Badan Ketahan Pangan Kementrian Pertanian, Agung Hendriyadi menyebut, salah satu penyebab lemahnya ketahanan pangan Indonesia saat ini adalah, banyaknya masyarakat yang masih mengandalkan padi, sebagai pemenuhan kebutuhan konsumsi sehari-hari.

Sementara konsumsi dari sektor lain seperti, holtikultura dan ikan masih sangat kurang. “Produksi ikan kita mencapai 50 kilogram per kapita per tahun. Sementara konsumsi ikan masyarakat kita hanya 20 kilogram per per kapita per tahun. Sementara sisanya, 30 kilogram per kapita per tahun hanya dibuang karena sebagian banyak yang sudah busuk,” tandasnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah terus mendorong peningkatan konsumsi makan ikan di masyarakat, lewat gerakan gemar makan ikan. Meski demikian, hal tersebut juga harus dibarengi dengan upaya lain, khususnya untuk mengatasi banyaknya hasil produksi ikan yang terbuang.

Salah satunya adalah dengan peningkatan teknologi pengolahan ikan. “Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian memiliki peranan penting dalam menciptakan inovasi teknologi pengolahan perikanan,” pungkasnya.

Lihat juga...