Warung Serbu, Usaha Kuliner Menjanjikan Pemilik Modal Kecil
Editor: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Kebutuhan masyarakat akan kuliner memunculkan sejumlah warung makan dan restoran di sepanjang Jalan Lintas Sumatera Lampung Selatan. Bagi sejumlah pemilik modal besar mendirikan usaha kuliner dengan konsep restoran besar menjadi pilihan.
Namun bagi pemilik modal terbatas, warung kuliner dengan konsep sederhana masih menjadi usaha pilihan warga.
Heni (35) salah satu pemilik warung di Jalan Lintas Timur KM 02 mengaku, membuka usaha kuliner menyesuaikan modal yang dimilikinya. Ia menyebut, awalnya bekerja di sebuah restoran besar di Jakarta dan setelah mengumpulkan ilmu serta modal mulai berwirausaha kuliner.
Pilihan membuka usaha berkonsep Serba Sepuluh Ribu (Serbu) menjadi pilihan baginya. Sebab dengan modal terbatas, dirinya masih bisa membuka usaha tersebut.

Usaha kuliner berkonsep Serbu, diakui Heni, tidak jauh berbeda dengan usaha kuliner sejenis. Namun, ia menyebut, khusus untuk warung Serbu, harga yang ditawarkan jauh lebih murah dibandingkan harga di warung kuliner normal serta restoran.
Meski demikian, rasa dan kualitas makanan yang dijual tetap sama dengan di restoran. Porsi atau ukuran dibuat lebih efisien, namun tetap mengenyangkan bagi konsumen.
Konsep warung kuliner Serbu, diakui Heni, difasilitasi oleh pihak Desa Bakauheni dengan membuat sejumlah warung di sekitar kantor desa. Pemilik modal kecil seperti dirinya mengaku cukup membayar sewa warung dengan harga Rp300 ribu per bulan.
Jumlah tersebut cukup terjangkau dengan perhitungan omzet per hari bisa mendapat Rp3 juta untuk sekitar 300 porsi makanan.
Keberadaan warung Serbu di sepanjang Jalan Lintas Timur, menurut Heni, saat ini berjumlah sekitar puluhan. Sebagian membuka warung Serbu secara mandiri dengan lahan dan fasilitas warung buatan sendiri. Sebagian menyewa bangunan yang dikelola desa.
Lokasi strategis di dekat pintu Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS), perlintasan ke Jalan Lintas Timur, Pelabuhan Bandar Bakau Jaya (BBJ) serta Pelabuhan PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Bakauheni, menjadi keunggulan.

Bermodal kecil, Heni mengaku, sebagian merupakan modal pinjaman dari lembaga simpan pinjam perempuan. Ia mengaku, pinjaman diberikan kepada usaha kecil yang dilakukan oleh perempuan.
Melalui sistem Serbu, porsi makanan yang disediakan di antaranya ikan laut, ikan air tawar, daging ayam serta daging sapi. Ukuran lauk yang disajikan lebih kecil untuk porsi normal, hanya untuk empat orang.
Pemilik usaha warung kuliner Serbu, Juminah (30) mengaku, baru satu tahun menjalankan usaha tersebut. Khusus untuk lauk jenis ikan laut dan ikan air tawar, ia memastikan, mendatangkan dari nelayan di Bakauheni dan pembudidaya ikan air tawar di wilayah tersebut.
Meski sejumlah lauk lebih kecil dibandingkan menu di rumah makan dan restoran, namun peminat warung Serbu cukup banyak.
“Peminat rata-rata warga yang berpenghasilan kecil setiap hari sehingga dengan harga sepuluh ribu cukup terjangkau,” terang Juminah.
Selain melayani konsumen yang langsung makan di warung Serbu miliknya, pesanan nasi bungkus Serbu kerap diminati pengemudi dan calon penumpang kapal. Harga terjangkau Rp10 ribu, menurut Juminah, menjadi pilihan membeli nasi bungkus karena di kapal harga makanan sejenis bisa dijual dengan harga dua kali lipat.
Selain pengemudi, calon penumpang kapal, paket nasi serbu kerap dipesan oleh sejumlah pekerja lepas di pelabuhan dan sejumlah nelayan.
Keuntungan berjualan kuliner dengan konsep Serbu, diakui Juminah, mulai menjamur di Lampung Selatan. Di dekat sejumlah instansi pemerintah dan perkantoran, usaha kuliner berkonsep Serbu bahkan mulai banyak dilirik pemilik modal kecil.
Bermodalkan sekitar Rp20 juta untuk peralatan, operasional dan bahan baku, Suminah mengaku, dalam sehari bisa mendapatkan omzet sekitar Rp3 juta bahkan hingga Rp4 juta sesuai dengan jumlah porsi makanan yang dijual.
Hasan (30) salah satu pelanggan nasi Serbu mengaku, keberadaan warung dengan harga murah sangat membantu dirinya. Pasalnya dengan harga murah sebagai pengemudi truk lintas pulau dirinya bisa menghemat pengeluaran untuk makan.
Sebelumnya dengan makan di restoran dirinya bisa mengeluarkan uang Rp200 ribu per hari namun kini bisa memghemat hingga Rp50.000 per hari.