Sanksi AS Terhadap Iran Memicu Kekhawatiran Pasokan Minyak
NEW YORK – Harga minyak mengalami kenaikan pada akhir perdagangan Selasa (7/8/2018) atau Rabu (8/8/2018) pagi (Waktu Indonesia Barat). Kondisi tersebut terjadi usai sanksi-sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap barang-barang Iran mulai berlaku.
Berlakunya sanksi tersebut meningkatkan kekhawatiran, dapat menyebabkan kekurangan pasokan minyak. Patokan global, minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober bertambah 0,90 dolar AS atau 1,2 persen, menjadi menetap di 74,65 dolar AS per barel di London, ICE Futures Exchange. Harga sempat mencapai titik tertinggi sesi sebesar 74,90 dolar AS.
Sementara itu, patokan AS, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September, naik 0,16 dolar AS atau 0,20 persen, ditutup 69,17 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Harganya turun dari harga tertinggi di awal sesi 69,83 dolar AS.
Gedung Putih mengatakan, dalam sebuah pernyataan pada Senin (6/8/2018), Amerika Serikat akan mengaktifkan kembali sejumlah sanksi, terhadap sektor keuangan dan industri Iran mulai Selasa (7/8/2018). Sanksi-sanksi AS terhadap anggota OPEC, Iran, secara resmi mulai berlaku pada pukul 00.01 tengah malam waktu setempat. Sanksi itu tidak termasuk ekspor minyak Iran. Negara tersebut mengekspor hampir 3 juta barel per hari (bpd) minyak mentah pada Juli lalu.
Sanksi-sanksi tersebut menargetkan pembelian dolar AS, perdagangan logam, batu bara, perangkat lunak industri, dan sektor otomotif Iran. Sanksi AS terhadap sektor energi Iran akan diberlakukan kembali setelah wind-down period 180 hari berakhir pada 4 November mendatang. “Ini tentu mengingatkan kepada semua orang, bahwa AS serius tentang sanksi-sanksinya, dan diragukan mereka akan memberikan keringanan,” kata John Kilduff, mitra di Again Capital Management di New York, Rabu (8/8/2018).
Seiring dengan ketegangan geopolitik yang dapat mempengaruhi produksi minyak mentah Iran, pedagang juga mengawasi persediaan minyak di AS. Diperkirakan karena gejolak yang ada, stok minyak AS turun 3,3 juta barel di pekan kemarin, menurut analis yang disurvei pada Selasa (7/8/2018).
Minyak mentah berjangka naik tipis dalam perdagangan pasca penyelesaian, dengan WTI pada 69,07 dolar AS per barel. Data dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan, persediaan minyak mentah AS turun 6 juta barel di pekan lalu. Harga minyak naik, pada awal sesi perdagangan setelah sanksi AS terhadap Iran mulai berlaku. “Tetapi kenaikannya terbatas, karena pelaku pasar tidak memiliki tanda yang jelas tentang seberapa banyak usulan sanksi minyak akan mempengaruhi hasil minyak mentah Iran,” kata Kilduff.
Presiden AS Donald Trump men-tweet, sanksi-sanksi adalah sanksi-sanksi paling keras yang pernah dikenakan. “Siapa pun yang melakukan bisnis dengan Iran, tidak akan melakukan bisnis dengan Amerika Serikat,” tandasnya.
Banyak negara Eropa, Tiongkok dan India, menentang sanksi tersebut, tetapi pemerintah AS mengatakan, ingin banyak negara ikut berhenti membeli minyak dari Iran. Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi mengatakan, negaranya menentang sanksi terhadap Iran. Tetapi akan mematuhi mereka untuk melindungi kepentingannya sendiri. “Pasar terus memperhitungkan risiko geopolitik dari penerapan kembali sanksi-sanksi AS pada Iran,” kata Gene McGillian, Wakil Presiden Riset Pasar di Tradition Energy di Stamford, Connecticut.
Laporan yang menyebut, produksi Arab Saudi menurun pada Juli terus memberikan dukungan untuk pasar. Produksi minyak mentah Arab Saudi turun sekira 200.000 barel per hari bulan lalu. Dua sumber di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mengatakan, pada Jumat (3/8/2018), meskipun Saudi dan produsen utama Rusia berjanji akan meningkatkan produksi mulai Juli, Arab Saudi menjanjikan peningkatan pasokan secara terukur.
Sementara itu, produksi minyak mentah AS, yang telah naik secara dramatis didorong oleh peningkatan produksi dari formasi serpih (shale). Produksi AS diperkirakan naik 1,31 juta barel per hari, menjadi 10,68 juta barel per hari di 2018. Jumlahnya lebih rendah dari perkiraan pertumbuhan bulan lalu, yang dari 1,44 juta barel per hari menjadi 10,79 juta.
“Kami terus perkirakan harga minyak mentah Brent turun menjadi 70 dolar AS per barel pada akhir 2018, karena pasar tampaknya cukup seimbang dalam beberapa bulan mendatang,” tandas Linda Capuano, Administrator EIA. (Ant)