Presiden Soeharto Apresiasi Tinggi Atlet Berprestasi

Editor: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Asian Games 2018 sudah mulai digelar sejak tanggal 18 Agustus 2018 di Jakarta dan Palembang dengan mempertandingkan berbagai cabor (cabang olahraga) yang melahirkan atlet-atlet Indonesia berprestasi, seperti di antaranya Lindswell Kwok (wushu), Tiara Andini Prastika (sepeda gunung nomor downhill putri), dan Khoiful Mukhib (sepeda gunung nomor downhill putra) yang mempersembahkan medali emas untuk kontingen.

Pada Orde Baru masa pemerintahan Presiden Soeharto, banyak juga atlet Indonesia berprestasi, bukan hanya di Asian Games, SEA Games, Asean Games, bahkan Olimpiade, dan Presiden Soeharto selalu memberi apresiasi tinggi atlet Indonesia berprestasi.

Seperti di antaranya, pada tanggal 10 Oktober 1988, di Bina Graha, sebagaimana dilansir dalam http://www.soeharto.co mengutip buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku X (1988), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, bahwa Presiden Soeharto memberikan beasiswa Supersemar kepada tiga atlet panahan Indonesia, yaitu Lilis Handayani, Nurfitriana dan Kusuma Wardani, yang dalam Olimpiade Seoul 1988 berhasil meraih medali perak.

Presiden Soeharto mengungkapkan kebanggaannya atas prestasi yang dicapai ketiga atlet itu dan mengharapkan agar terus berlatih secara tekun agar prestasi mereka meningkat.

Kepada pimpinan KONI, Presiden juga berpesan agar terus memberikan bimbingan kepada semua cabang olahraga Indonesia agar bisa lebih siap dalam menghadapi peristiwa-peristiwa olahraga tingkat dunia seperti Asian Games dan Olimpiade.

Ketika diterima Presiden di Bina Graha ketiga atlet panahan itu didampingi Menpora Abdul Ghafur, Ketua Umum KONI Pusat Surono, Ketua Pembina Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) Bob Hasan, Ketua Umum Perpani H. Panggabean, Ketua Kontingen Indonesia ke Olimpiade Seoul Mayjen Pol. Wik Djatmiko, dan pelatih panahan yang berperan besar dalam prestasi ketiga atlet tersebut, Donald Pandiangan.

Pada saat itu, Lilis Handayani masih mahasiswa semester 7 di Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya. Sedangkan, Kusuma Wardani mengaku telah lulus suatu akademi. Adapun, Nurfitriana kuliahnya di Akademi Perbanas sedang terhenti.

Kisah kesuksesan tiga atlet panahan Indonesia dalam Olimpiade Seoul berhasil meraih medali perak diangkat ke dalam film layar lenbar berjudul ‘3 Srikandi’. Para pemerannya, Bunga Citra Lestari (Nurfitriyana), Chelsea Islan (Lilies Handayani), Tara Basro (Kusuma Wardhani) dan Reza Rahadian berperan sebagai pelatih Donald Pandiangan.

Kemudian, dalam upacara peringatan Hari Olahraga Nasional (Haomas) VIII di Senayan, Jakarta, pada tanggal 9 September 1991, sebagaimana dilansir dalam http://www.soeharto.co mengutip buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIII (1991), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, bahwa Presiden Soeharto memberi apresiasi tinggi pada tiga atlet bulutangkis, yaitu Icuk Sugiarto, Susi Susanti dan Ardy B Wiranata dengan penghargaan Satya Lencana Kebudayaan.

Icuk mendapat penghargaan itu karena ia menjadi juara dunia 1983, juara Asian Games 1982, SEA Games 1985 dan juara nasional 1983-1988. Sedangkan, Ardy BW menjadi juara All England 1991, Piala 555 1991 dan juara nasional. Adapun, Susi pemah menjadi juara All England 1990-1991, Piala Dunia 1991, Asian Games 1988 dan SEA Games 1989.

Berkat jasa besarnya dalam pembinaan olahraga di tingkat Asia, Presiden Soeharto mendapat penghargaan dari OCA (Dewan Olympiade Asia), badan yang mengelola pesta olahraga Asia (Asian Games) karena berhasil memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat Indonesia dalam pembinaan olahraga, baik di tingkat nasional, regional maupun benua.

Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Presiden OCA Sheikh Fuhad AI Ahmad AI Sabah di Istana Merdeka Jakarta. Pangeran dari Kuwait itu berada di Jakarta untuk memimpin sidang Dewan Olympiade Asia (OCA) sekaligus bertemu dengan para tokoh olahraga Asia.

Dalam sambutannya, Presiden Soeharto mengatakan, penghargaan itu bukanlah untuk dirinya, tapi juga untuk seluruh rakyat Indonesia.

“Saya bangga dengan hasil-hasil yang dicapai sebab peningkatan kesejahteraan material dan spiritual adalah dasar untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia,“ ungkap Presiden Soeharto bangga.

Untuk meningkatkan hidup perlu ada kesehatan, kata Presiden Soeharto, dalam kaitan ini olahraga berperan penting.

“Indonesia sendiri memberikan prioritas pada pengembangan olahraga yang bisa dilaksanakan bersama-sama oleh masyarakat seperti senam pagi disamping cabang-cabang olahraga yang sesuai dengan selera masyarakat,“ tegas Presiden Soeharto.

Sejarah mencatat, Presiden Soeharto mencanangkan Gerakan Nasional tentang ‘Panji Olahraga’ pada tahun 1983. Mottonya sangat populer dan fenomenal yakni “mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga”.

Presiden Soeharto juga menetapkan Hari Olahraga Nasional (Haornas) pada 9 September untuk peningkatan, pembinaan, dan perkembangan olahraga secara berkelanjutan. Penetapan itu dilakukan pada 1985, yang tanggal peringatannya diambil dari pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama di Indonesia.

Lewat PON inilah benih atlet-atlet di masa Orde Baru ditempa dan dikirim ke berbagai arena olahraga internasional. Seperti di antaranya, dominasi atlet Indonesia di kancah Asia Tenggara.

Di era pemerintahan Presiden Soeharto, Indonesia berpartisipasi pertama kali dalam pesta olahraga dua tahunan SEA Games pada 1977. Sebelum SEA Games, acara itu bernama SEAP (Southeast Asian Peninsular) Games, yang bemula tahun 1959. Ketika pertama kali berpartisipasi, Indonesia langsung berada pada posisi teratas dalam raihan medali dengan menggeser dominasi Thailand.

Pada periode kepemimpinan Presiden Soeharto tercatat Indonesia 11 kali ambil bagian sejak 1977 hingga 1997 dan kedudukan nomor satu hanya digeser Thailand saat Negeri Gajah Putih itu menjadi tuan rumah pada 1985 di Bangkok dan 1995 di Chiang Mai.

Prestasi prestisius lainnya, antara lain Rudy Hartono menjadi juara termuda di All England (1968) dan memegang rekor delapan kali juara, bahkan terbilang tujuh kali secara berurutan. Piala Thomas pun jadi langganan juara Indonesia dari 1970-1990.

Selain itu, setelah Indonesia untuk kali pertama memperoleh medali di ajang olahraga terbesar di dunia yakni Olimpiade, tiga Srikandi mendapatkan perak panahan di Seoul 1988. Kemudian, tak tanggung-tanggung dua medali emas Olimpiade bisa diraih di Barcelona 1992 berkat permainan gemilang Susy Susanti (tunggal putri) dan Alan Budikusuma (tunggal putra) pada Olimpiade Barcelona.

Era medali emas Olimpiade terakhir di zaman Orde Baru pada pemerintahan Presiden Soeharto diberikan Rexy Mainaky dan Ricky Subagja pasangan ganda putra bulu tangkis di Atlanta 1996.

Lihat juga...