MK Zimbabwe Nyatakan, Mnangagwa Pemenang Pilpres

Ilustrasi wilayah Zimbabwe - Foto: Dokumentasi CDN

HARARE – Mahkamah Konstitusi (MK) Zimbabwe, mengonfirmasi kemenangan Presiden Emmerson Mnangagwa dalam pemilu 30 Juli lalu. Pernyataan tersebut menjadi bentuk penolakan tantangan dari oposisi, yang sempat menahan pelantikan Mnangagwa yang akan diselenggarakan pada Minggu (26/8/2018).

Sebelum pemungutan suara, Mnangagwa mengatakan, Pemilihan Presiden (Pilpres) yang kredibel, dapat menarik Zimbabwe keluar dari isolasi diplomatik di bawah mantan Presiden Robert Mugabe. Hal itu bisa mengakhiri sanksi-sanksi internasional, dan mendorong pemulihan ekonomi.

Pemilihan itu membuat negara tersebut terpolarisasi. Nelson Chamisa, yang memimpin Gerakan bagi Perubahan Demokrasi (MDC) yang menjadi oposisi, mempertanyakan kemenangan lawan politiknya Mnangagwa. Upaya tersebut dilakukan dengan membawa perkaranya ke MK Zimbabwe. Tercatat upaya tersebut memicu terjadinya sejumlah kekerasan di jalan-jalan Harare.

Keputusan sembilan hakim MK Zimbabwe, Ketua Mahkamah Konstitusi Luke Malaba mengatakan, Chamisa telah gagal membuktikan tuduhan-tuduhan kecurangan dalam pemungutan suara presiden tersebut. “Emmerson Dambudzo Mnangagwa dinyatakan sebagai pemenang pemilihan presiden yang diselenggarakan pada 30 Juli 2018,” kata Malaba dalam keputusannya.

Chamisa mengatakan, sebelumnya Dia mempunyai hak untuk mengambil tindakan alternatif, termasuk aksi protes damai, jika Dia kalah dalam perkara itu. Namun hingga Jumat (24/8/2018), Dia tak menjelaskan upaya lanjutan yang akan dilakukan. Hanya saja melalui akun twiternya, Chamisa mengatakan kepada para pendukungnya, Dia akan berkonsultasi mengenai jalan apa yang harus ditempuh untuk menyelamatkan Zimbawe yang cantik dari kemiskinan, korupsi dan ketakjujuran.

Pemilihan yang diikuti Mnangagwa dan Chamisa, sebagai calon presiden, disebut-sebut sebagai langkah krusial untuk menghapus reputasi parah Zimbabwe, dan ikhtiar negara itu untuk memperoleh donor internasional. Donor untuk mendanai ekonomi, menarik investasi, dan uang tunai, serta mengatasi pengangguran.

Sementara itu, tentara setempat telah melakukan tindakan tegas kepada para pendukung oposisi, setelah pelaksanaan pemilu. Sedikitnya enam orang tewas pada 1 Agustus lalu. Apa yang dilakukan tentara itu, mengingatkan taktik keamanan ketika Mugabe berkuasa selama 37 tahun. Mugabe dilengserkan dalam suatu kudeta di November 2017 silam.

Mnangagwa sekarang menghadapi tantangan untuk membujuk masyarakat internasional, bahwa penumpasan oleh tentara, dan penyimpangan dalam proses pemilu, tidak akan membuatnya mengingkari janji. Mnangagwa berjanji akan melakukan reformasi, guna mengatasi korupsi, dan salah urus negara ketika Mugabe berkuasa.

Presiden itu menyerukan perdamaian di akun media sosialnya, setelah MK Zimbabwe mengeluarkan keputusan tersebut. “Nelson Chamisa, pintu saya terbuka dan tangan terulur. Kita satu negara, dan kita harus mendahulukan negara. Mari kita semua menyelesaikan perbedaan-perbedaan,” katanya.

Menteri Keuangan Zimbabwe, Patrick Chinamasa mengatakan, Mnangagwa akan dilantik pada Minggu (26/8/2018). Di kantor-kantor ZANU-PF, ratusan pendukung mengikuti keputusan Malaba di televisi. Mereka bernyanyi dan menari untuk mengekspresikan kegembiraan, setelah tahu calon mereka resmi dinyatakan sebagai presiden Zimbabwe. (Ant)

Lihat juga...