LAMPUNG – Kekeringan yang masih melanda wilayah Lampung Selatan, berimbas pada sulitnya peternak mencari pakan. Sejumlah lahan hijau kering akibat kekurangan air di musim kemarau ini.
Sumarno (50), warga Desa Sido Harjo, Kecamatan Way Panji, Lampung Selatan, memilih mengandangkan ternak miliknya. Ia mengaku kesulitan memperoleh pakan hijauan berupa rumput, sehingga harus menggunakan pakan alternatif.
Khusus untuk ternak empat ekor sapi jenis limousin dua ekor dan sapi peranakan ongole (PO) dua ekor, dirinya menggunakan pakan jenjet jagung, dedak dan tetes tebu.
Jenjet jagung, dedak, butiran jagung halus, dan tetes tebu itu diberikan sebagai selingan untuk pakan hijauan yang terpaksa dicari di lokasi yang jauh.

Menurut Sumarno, pakan alternatif tersebut sudah kerap diberikan, terutama ketika musim kemarau melanda. Ia membeli jenjet jagung seharga Rp25.000 per karung, dengan berat 25 kilogram, dedak limbah penggilingan beras seharga Rp30.000 ukuran 30 kilogram, serta tetes tebu seharga Rp50.000 ukuran 15 liter.
Bahan-bahan tersebut selanjutnya dicampurkan sebagai pakan alternatif, diberikan tiga kali sehari untuk kebutuhan selama satu bulan.
“Saya cukupkan kebutuhan pakan alternatif tersebut selama satu bulan, meskipun saya tetap mencari pakan hijauan dengan menanam rumput pandan, sebagian mencari di daerah dekat sungai yang masih banyak tersedia rumput hijauan,” terang Sumarno, saat ditemui Cendana News, Minggu (5/8/2018).
Sulitnya mencari pakan ini, membuatnya harus mengeluarkan biaya hingga ratusan ribu rupiah per bulan. Ia yang semula memiliki lima ekor sapi, kini hanya menyisakan empat ekor setelah menjual satu ekor sapi PO dengan harga Rp20 juta, untuk digunakan warga lain sebagai hewan kurban pada Hari Raya Idul Adha 1439 pada 22 Agustus mendatang.
Selain membutuhkan biaya untuk kuliah sang anak, ia sengaja menjual sapinya untuk mengurangi beban biaya pakan ternak.
Berbeda saat musim hujan, dirinya bisa menempatkan ternak sapinya di lahan penggembalaan di lapangan, kebun dan sawah. Namun, saat kemarau, rumput yang sudah kering justru berisiko, karena sapi bisa kepanasan. Mengandangkan ternak pun menjadi pilihan saat kemarau melanda, dengan tetap memberikan asupan air minum dan pakan pada siang hingga malam hari.
“Lahan sawah saya kering, sehingga tanaman padi ikut kekeringan, bahkan rumput di tegalan sudah tidak tumbuh, biasanya bisa untuk pakan sapi,” beber Sumarno.
Petani lain pemilik hewan ternak jenis kambing rambon dan kacang, juga merasakan dampak kekeringan. Damiran (60) warga Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, mengaku terpaksa memberikan asupan pakan dari batang pisang yang dicacah untuk pakan ternaknya.
Sepuluh ekor kambing miliknya kerap dilepasliarkan dengan cara ditunggu di areal persawahan. Namun akibat musim kemarau ini, kambing miliknya hanya dikandangkan.
Damiran bahkan harus mencari pakan dengan menggunakan galah bambu, untuk menyengget atau memetik daun jati ambon, sengon dan nangka untuk pakan.
