Realisasi Imunisasi di Sumatera Barat, Rendah
Editor: Satmoko Budi Santoso
PADANG – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) melalui Dinas Kesehatan meminta kepada masyarakat untuk bersedia membawa anak-anak imunisasi. Hal ini dikarenakan imunisasi sangat penting dilakukan. Apalagi, dengan imunisasi dapat mengeliminasi beberapa penyakit.
“Sosialisasi imunisasi perlu digencarkan dilakukan kepada masyarakat. Supaya masyarakat paham akan pentingnya imunisasi sejak dini bagi anak mereka,” ujar Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit, saat membuka seminar dan advokasi untuk kampanye imunisasi MR fase II dan surveilans PD3I di Hotel Grand Inna Padang, Senin (23/7/2018).
Ia menyebutkan, secara nasional target imunisasi sekitar 92 persen. Sedangkan, Sumatera Barat baru di cakupan 81,4 persen. Masih selisih 11 persen. Maka, untuk itu diharapkan selisih nasional ini dapat segera dicapai.
Selain itu, Nasrul menyebutkan agar hal tersebut dapat tercapai kepada masyarakat, apalagi mereka yang berada di daerah dengan status tertinggal diperlukan peran bidan desa dan Puskesmas untuk turun jemput bola ke rumah-rumah masyarakat sehingga dengan upaya ini target itu dapat tercapai.
Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia Cabang Sumbar, Dr. Didik Hariyanto, Sp.A(K) menyebutkan, bahwa imunisasi merupakan upaya promosi kesehatan yang paling efektif di seluruh dunia. Bahkan, sejak pertama dikenalkan imunisasi telah menurunkan angka kecacatan dan kematian akibat penyakit menular di dunia.
Menurutnya, imunisasi juga merupakan salah satu dari 17 goals Substainable Development Goals (SDG) yakni untuk mencapai universal health coverage, termasuk perlindungan risiko keuangan, akses kepada pelayanan kesehatan dasar berkualitas serta akses kepada obat-obatan. Kemudian, aksen vaksin dasar yang aman, efektif dan berkualitas.
“Agar SGD yang ditargetkan pada tahun 2030 salah satu upaya yang dilakukan pada bidang kesehatan adalah imunisasi Measles Rubella (MR). Imunisasi MR ini penting untuk diberikan bagi anak usia 9 bulan hingga di bawah 15 tahun,” katanya.
Lanjutnya, imunisasi rubela juga dapat mencegah penularan penyakit rubela dari anak ke ibu hamil yang ada di sekitarnya.
Oleh karena itu, sebagai bentuk dukungan kepada pemerintah perlu meningkatkan cakupan imunisasi dasar maupun lanjutan serta mendukung pelaksanaan program eliminasi MR Indonesia.
Maka, pengurus pusat IDAI bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan serta WHO didukung IDAI cabang mengadakan seminar dan advokasi untuk kampanye imunisasi MR fase II dan surveilans PD3I.
“Untuk itu seminar ini diadakan di 14 kota di luar Jawa termasuk Padang. Sehingga, dengan adanya seminar ini memberikan penyegaran kepada tenaga kesehatan lintas sektor mengenai pelayanan imunisasi,” pungkasnya.
Tidak hanya itu, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat memperkirakan populasi anak usia 9 bulan hingga di bawah 15 tahun diperkirakan mencapai 1,5 juta anak. Ditargetkan seluruh anak di Sumbar itu, pada Agustus hingga September 2018 mendapat bisa mendapatkan imunisasi massal campak dan rubella.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, Merry Yuliesday, mengatakan, sasaran imunisasi untuk anak usia 9 bulan hingga di bawah 15 tahun ini hingga saat ini masih mencapai 25 persen.
Untuk itu melalui sosialisasi program nasional kampanye imunisasi campak dan rubela bersama United Nations Children’s Fund (Unicef), diharapkan dapat mencapai target imunisasi tersebut.
Ia menyebutkan untuk mencapai target itu diharapkan kepada Puskesmas di seluruh daerah di Sumatera Barat melakukan pendataan kepada anak usia tersebut, serta melakukan imunisasi hingga ke sekolah.
“Kita akan menyasar ke seluruh anak di Sumatera Barat, untuk mencapai target 100 persen anak di Sumbar mendapatkan imunisasi campak dan rubella,” katanya.
Menurutnya, agar imunisasi tersebut berjalan sesuai dengan target yang disasar, maka, pihak Puskesmas mesti datang ke sekolah. Mulai dari di PAUD, TK ataupun SD dan SMP. Selain itu, orang tua juga diminta untuk membawa anak untuk diimunisasi ke Puskesmas terdekat.
“Imunisasi ini untuk mencegah penyebab yang akan terjadi di kemudian hari jika tidak dilakukan imunisasi. Penyebabnya, dapat berupa kecacatan dan kelainan. Artinya dengan mempersiapkan imunisasi sejak dini, maka anak di Sumatera Barat telah menyiapkan penerus bangsa yang sehat,” ujarnya.