Nyanyian Anak, Kembalikan Hakikat Anak-anak
Editor: Satmoko Budi Santoso
JAKARTA – Menyambut Hari Anak Nasional (HAN) yang jatuh pada 23 Juli 2018, Mini Onsteam bekerja sama dengan CGV Cinemas menggelar nobar film pendek berjudul ‘Nyanyian Anak’ dengan mengajak anak-anak yang terkena kanker dan kelainan darah dari RS Kanker Dharmais, RS Fatmawati, RS Harapan Kita, RS Kramat dan RS Cipto Mangunkusumo (RSCM).
“Saya menulis skenario film ini sekaligus ingin anak saya punya tontonan yang bagus, yang dapat memberikan sesuatu, “ kata Ita Sembiring, produser dan penulis skenario film Nyanyian Anak, seusai nobar film ‘Nyanyian Anak’ di Bioskop CGV, Pacific Place, Jakarta (23/7/2018).
Ita menyebut dirinya sebagai orang indie. Film pendek yang dibuatnya hanya tayang di berbagai festival film.
“Setelah festival kalau filmnya menang tentu dapat pemasukan. Tapi kalau tidak menang, akan menjadi pertimbangan untuk membuat karya berikutnya, karena membuat film itu tidak murah dan juga tentu tidak mudah,“ ungkapnya.
Meski demikian, Ita tak patah arang dan terus berjuang agar filmnya dapat tayang, sebagaimana film-film pada umumnya.
“Saya merasa perlu berjuang agar film saya tayang di bioskop karena impian film maker, pembuat film, seperti saya tentu ingin filmnya tayang di bioskop,“ paparnya.
Ita merasa bersyukur kini ia berhasil menjalin kerjasama dengan jaringan bioskop CGV untuk menayangkan film di jaringan bioskop mereka, meski jam tayangnya terbatas.
“Kalau ada komunitas yang minta ingin menonton film ini, diupayakan untuk booking bioskop, seperti bulan lalu kita tayangkan film ini dan banyak juga penontonnya,“ tuturnya penuh rasa syukur.
Membuat skenario film ini, bagi Ita, ia tidak melakukan riset. Masalah anak sudah akrab dengan dirinya sebagai seorang ibu yang punya anak dengan segala problematika.
“Anak saya seperti anak-anak lainnya, saya memperlakukan mereka yang ikut nobar film ini seperti anak saya sendiri,“ ujarnya.
Dalam film ini, Ita menampilkan lagu anak-anak. Agar anak-anak kembali menggemari lagu tersebut. Bukan lagu orang dewasa yang tentu sangat jauh dari karakter anak-anak.
“Dalam film ini, ditampilkan lagu anak-anak zaman dulu seperti di antaranya Bintang Kecil, Pergi ke Bulan dan Mimpi karya almarhum A. Riyanto dan Daldjono. Dengan demikian anak-anak juga punya nyanyian sesuai jiwa dan usianya. Jadi dikembalikan anak-anak pada hakikatnya,” paparnya.
“Kita punya masa kecil yang indah untuk diceritakan, mereka punya masa kecil yang harus diperjuangkan,“ imbuhnya tampak begitu sangat bersemangat.
Rencananya, Ita akan memutar film ini di Yogyakarta pada tanggal 17 Agustus 2018 dengan mengajak anak-anak panti asuhan dan sekolah-sekolah yang tidak mampu, untuk menonton film ini.
“Kadang-kadang sekolah ingin mengejar kualitas, tapi anak-anak yang dikorbankan,“ tegasnya.
Harapan Ita terhadap film ini, ingin pesan yang ada dalam film ini sampai ke masyarakat.
“Anak bukan investasi, anak bukan untung rugi. Kalau orangtua punya impian, juga harus memikirkan impian anak-anak. Anak-anak tidak harus nomor satu, tapi yang penting menjadi orang yang berguna dan punya budi pekerti yang baik. Terutama sekali kita ingin lagu anak-anak hidup lagi,“ pungkasnya.