Baraka Nusantara Kelola Sampah Gunung Rinjani
JAKARTA – Gerakan kolaborasi pemuda Indonesia dan Australia, Baraka Nusantara, sejak tahun lalu menginisiasi program pengelolaan sampah di wilayah kaki Gunung Rinjani, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Program “Sangkabira Waste Management” yang didukung Australia Award Program melalui Skema Hibah Alumni dari pemerintah Australia ini memfokuskan pada dua kegiatan, yakni daur ulang sampah plastik dan pengolahan sampah pertanian menjadi media tanam untuk budi daya jamur.
“Pelatihan pengolahan sampah pertanian menjadi budi daya jamur tiram telah digelar pada 13 April lalu dengan menggandeng kelompok Myotech asal Bandung sebagai mitra. Pelatihan tersebut diikuti oleh 20 orang peserta murid,” ujar Pendiri Baraka Nusantara, Siti Maryam Rodja dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu.
Dari pelatihan ini lahirlah beberapa kelompok “petani jamur muda” yang sudah berhasil memproduksi jamur tiram dan telah diperjualbelikan ke masyarakat.
Dari 20 peserta yang dilatih, mereka melakukan sosialisasi ke murid-murid lainnya di empat desa. Hingga kini sudah 115 anak SMA/SMK tersosialisasi akan ilmu pengolahan sampah pertanian.
Kegiatan budi daya di Kecamatan Sembalun ini bahkan menghasilkan varietas jamur unik, yakni jamur tiram merah muda, padahal jamur yang disemai dalam “baglog” adalah jamur tiram putih dan jamur tiram cokelat. Varietas baru ini diharapkan dapat meningkatkan nilai jual jamur hasil produksi kelompok “Sangkabira Waste Management”.
Selain itu, pada 5-7 Juli 2018 Baraka Nusantara melaksanakan pelatihan pengelolaan sampah plastik bekerjasama dengan Precious Plastik Indonesia yang targetnya adalah 20 pemuda dari empat desa di Kecamatan Sembalun, dan akan menyusul sosialisasi pengolahan sampah plastik di lima titik berikutnya dengan target peserta sebanyak 185 pemuda.
“Diharapkan masyarakat yang berpartisipasi dalam program ini akan lebih banyak, karena program ini memiliki efek penurunan jumlah sampah, lingkungan lebih bersih, pelajar dan pemuda memiliki bekal kewirausahaan sosial, karena dana yang dihasilkan dari produk sampah tersebut sebagian dialokasikan untuk mendukung pendidikan di Kecamatan Sembalun,” kata Siti.
Gerakan sosial pengelolaan sampah oleh Baraka Nusantara dilatarbelakangi fakta banyaknya sampah dari pendakian Gunung Rinjani yang pada 2016 mencapai 13 ton.
Sebagai destinasi wisata bagi puluhan ribu turis lokal maupun mancanegara setiap tahunnya, Gunung Rinjani didaki lebih dari 90 ribu orang pada 2016. Jumlah ini jauh melebihi populasi penduduk Kecamatan Sembalun yang hanya 19 ribu orang.
“Sektor pariwisata memang terkesan menjanjikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat lokal, namun di sisi lain, pariwisata juga memiliki sisi negatif yang menimbulkan masalah sosial yaitu sampah yang merusak lingkungan,” kata Siti.
Tidak hanya sampah dari pendakian, kondisi di Kecamatan Sembalun diperparah dengan tidak adanya tempat pembuangan sampah sementara sehingga sampah rumah tangga dan sampah pertanian seringkali dibuang di sungai dan hutan, atau dibakar. (Ant)