Alasan Ardina Rasti Perankan Desi di Film ’22 Menit’
Editor: Makmun Hidayat
JAKARTA — Melakoni peran yang sangat menyebalkan bernama Desi dalam film 22 Menit, tampaknya menjadi tantangan tersendiri bagi artis cantik Ardina Rasti.
Peran Desi dalam film tersebut, Ardina sendiri yang memilihnya untuk mengasah kemampuan aktingnya karena film-film yang dibintangi sebelumnya selalu dapat peran protagonis yang karakternya orang baik-baik saja.
“Saya memang sengaja memilih sendiri peran yang sangat menyebalkan ini,” kata Ardina Rasti di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, belum lama ini.
Perempuan kelahiran Jakarta, 6 Januari 1986, itu membeberkan kenapa sampai ia sendiri dapat memilih sendiri peran yang dilakoninya.
“Dalam film ini, karakter ceweknya hanya ada empat, dan aku dibolehin untuk milih yang mana aja. Dari empat karakter itu semuanya protagonis, kecuali satu karakter yang namanya Desi ini. Pas aku baca skenarionya, aduh ini karakter nyebelin banget sih. Tapi justru itu yang aku pilih,” beber pemilik nama lengkap R.A. Ardina Rasti Widiani.
Ardina mengaku memilih peran itu karena ia ingin mencari pengalaman karena selama ini kerap mendapatkan peran protagonis.
“Ini filmku yang ke-14 dan sebelumnya belum pernah dapat karakter yang annoying, jadi emang pengin banget, dan ternyata diperbolehkan,” ungkap anak artis senior Erna Santoso.
Dengan peran Desi yang sangat menyebalkan, Rasti merasa jadi sangat tertantang. “Tantangannya aku harus mempelajari banyak kasus viral. Kayak ibu-ibu ditilang malah ribut sama polisi. Kebanyakan the power of emak-emak deh pokoknya,” ujarnya.
Dalam film ini, Rasti kecewa dan menyayangkan karakter Desi ini sama sekali tak mendapat porsi adegan laga di film tersebut. Padahal, ia sangat ingin beradegan laga, sebagaimana layaknya para pemeran lainnya.
“Sayangnya, aku enggak kebagian adegan action, jadi kecewa karena sebenarnya pengin banget. Ngelihat Ario Bayu dan yang lainnya beraksi itu kayaknya keren banget,” tuturnya.
Namun demikian, Rasti merasa senang bisa ikut terlibat dalam film yang terinspirasi dari tragedi serangan teroris di kawasan Jalan Thamrin, Jakarta Pusat pada Januari 2016 silam tersebut.
“Tapi aku tetap senang juga, karena tantangannya buat aku karakternya itu emang menyebalkan,” tegasnya.
Untuk bisa tahu aktingnya sesuai dengan perannya, Rasti sering menanyakan pada sutrdara yang mengarahkannya.
“Setiap habis take, aku nanya pada sutradara, aktingku sudah cukup nyebelin apa belum? Kalau sutradara sudah bilang, ‘gue kayaknya pengin jitak lu’, berarti itu udah aman,” pungkasnya saraya tergelak tawa.