Pegiat Kesenian Tradisional Berharap Sering Dapat Kesempatan

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Melestarikan kesenian tradisional kepada generasi muda, memang harus selalu ditumbuhkan. Kesempatan untuk tampil dalam berbagai iven juga harus selalu diberikan, sehingga kesenian tradisional yang dilestarikan terus tumbuh dan berkembang.
Hal ini seperti tampak pada penampilan kelompok kesenian tradisional Satriyo Kromo Mudo, yang memainkan Tari Jaranan dari Jawa Timur, dalam acara Gala Premiere Film ‘Jaran Goyang’ di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (27/6/2018) malam.
“Kami menampilkan Tari Jaranan dari Jawa Timur,“ kata Onay, penggiat kesenian tradisional, usai menampilkan kesenian tradisional Tari Jaranan.
Onay membeberkan, Tari Jaranan yang ditampilkan itu dimainkan delapan penari dari kelompok kesenian tradisional Satriyo Kromo Mudo, dengan menaiki kuda tiruan yang terbuat dari anyaman bambu.
“Tari Jaranan kaya akan nilai seni dan budaya, juga sebenarnya dulu sangat kental dengan kesan magis dan nilai spiritual, tapi sekarang lebih pada seremonial kegiatan,“ bebernya.
Menurut Onay, Tari Jaranan ini menceritakan tentang pernikahan Klono Sewandono dengan Dewi Songgo Langit.
“Kami menarikan penari berkuda pada Tari Jaranan ini, menggambarkan tentang rombongan prajurit yang mengiringi boyongan Klono dan Dewi dari Kediri menuju Wangker. Tari Jaranan ini warisan nenek moyang kita yang masih tetap ada, dan berkembang hingga sekarang,“ paparnya.
Meski Onay asli Betawi, tapi tetap berminat menampilkan kesenian tradisional Tari Jaranan. “Saya memang senang dengan berbagai kesenian tradisional, kalau sekarang Tari Jaranan, sebelumnya kami juga menampilkan kesenian tradisional lainnya, seperti Reog Ponorogo, Ketoprak, Ludruk dan lain-lain,“ ujarnya.
Onay menyebut, beberapa tempat yang sering disinggahi dalam menampilkan berbagai kesenian tradisional. “Kami sering tampil di Taman Mini Indonesia Indonesia (TMII), Ancol, berbagai instansi pemerintahan dalam menggelar kegiatan,“ ungkapnya.
Harapan Onay, semakin banyak kegiatan yang memberikan kesempatan bagi kelompok-kelompok kesenian tradisional untuk menampilkan berbagai kesenian tradisional.
“Kalau bukan kita yang melestarikan kesenian tradisional, lalu siapa lagi? Jangan sampai kesenian tradisional dicaplok atau diklaim oleh negara tetangga, maka kita semua patut untuk turut bersama-sama melestarikan kesenian tradisional,“ pungkasnya.
Lihat juga...