Habis Modal, Petani di Sumbar tak Bisa Mulai Tanam

Editor: Koko Triarko

PESISIR SELATAN — Petani yang ada di Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, harus menunda masa turun ke sawah pada pertengahan tahun ini. Hal tersebut, dikarenakan masuknya masa sulit ekonomi. 
Seperti yang dikatakan Ujang Eman, seorang petani di daerah tersebut, sawah tidur itu sudah berlangsung satu bulan sebelum Ramadan kemarin. Biasanya, pada pertengahan Ramadan, petani sudah mulai menggarap sawah. Tapi, ternyata ada kendala yang dihadapi para petani.
Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat, Candra/Foto: M. Noli Hendra
“Persoalan kami di sini soal modal. Kalau mau menggarap sawah lagi dari awal, yakni membajak, butuh uang yang banyak. Setidaknya, khusus untuk membajak sawah butuh dana sebesar Rp2 juta lebih, setelah itu lanjut membeli benih. Dana awal itu yang tidak ada,” katanya, Senin (25/6/2018).
Menurutnya, salah satu penyebab minimnya modal untuk kembali ke sawah, menipisnya keuangan setelah melangsungkan libur Lebaran. Karena seminggu atau pun selama Lebaran tidak ada pemasukan apa pun.
“Apalagi penghasilan petani itu dicari sehari habisnya sehari”, katanya.
Beda dengan pegawai atau karyawan di perkantoran, katanya, gajinya tetap terhitung, meski tidak bekerja seperti halnya pada momen Ramadan dan Lebaran. Maka itu, saat ini petani terpaksa membiarkan sawahnya tidur.
“Kalau luas sawah di sini ada sekira ratusan haktare. Semuanya belum ada yang mulai membajak sawah. Belum tahu juga persoalannya apa, tapi yang jelas banyak yang cerita, kondisi keuangan lagi menipis,” ungkapnya.
Sebagai upaya mencari dana awal, para petani beralih mencoba menjadi buruh petani gambir. Upah yang diterima per pekan dikumpulkan, dan nantinya uang itu digunakan untuk membayar bajak sawah.
“Saya kini mencoba menjadi buruh di salah satu kebun teman saya, yakni memanen gambir. Upahnya lumayan,  ya bisa Rp500.000-700.000 per pekannya,” ujarnya.
Ia menilai, lebih baik cari uang sendiri untuk modal mengelola sawahnya, ketimbang harus minjam uang ke perbankan. Menurutnya, jika mengajukan pinjaman uang ke perbankan, proses sangat sulit, dan rasa menghantui punya utang yang harus dibayar setiap bulannya itu, membuat hidup tidak tenang.
“Mendingan menabung saja dulu, karena upah per pekan itu dapat buat belanja keluarga, dan sedikit demi sedikit bisa disimpan, buat modal mengelola sawah kembali,” sebutnya.
Terkait persoalan itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat, Candra, mengatakan, bahwa saat ini sebenarnya adalah momen yang bagus untuk mengelola sawah. Hal ini karena musim atau cuaca sedang bagus, baik itu sawah yang telah memiliki irigasi, maupun untuk sawah tadah hujan.
“Kalau sudah persoalan ekonomi, kita tentunya tidak bisa paksa petani untuk turun. Tapi, sebenarnya baiknya itu manfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang ada alokasinya untuk para petani,” ujarnya.
Kendati demikian, Candra memperkirakan, kondisi yang tersebut tidak berlangsung lama, karena memang biasanya usai Lebaran, petani belum bisa turun langsung ke sawah. Kalau yang selalu bekerja itu, bisa saja bagi nelayan.
Ia menyatakan, untuk kondisi petani yang demikian, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat bisa saja memberikan bantuan berupa benih. Biasanya untuk melakukan mendapatkan bantuan benih, petani harus melalui kelompok tani yang ada.
“Kalau benih bisa dibantu, itu pun petaninya harus bergabung ke kelompok tani. Karena penyaluran bantuan pertanian itu diberikan kepada kelompok tani, bukan secara perorangan,” tegasnya.
Lihat juga...