Gubernur Bali Dorong Lansia Ikut Membangun Daerah

Editor: Mahadeva WS

DENPASAR – Gubernur Bali Made Mangku Pastika menyebut, tingkat kesejahteraan suatu daerah diukur dari seberapa usia harapan hidup masyarakatnya.

Oleh sebab itu, para Lanjut Usia (lansia) harus terus aktif beraktivitas di usia senjanya. Hal tersebut akan membantu melatih saraf motorik dan pikiran para lansia akan sehingga tetap sehat dan terjaga.

“Kegiatan untuk para Lansia sangat penting. Lansia harus terus beraktivitas, baik fisik maupun pikirannya harus terus digunakan. Jangan sampai lansia menjadi tidak berguna,” ucap Pastika saat menerima kunjungan Eksekutif SurveyMETER serta Suryani Institute sebuah LSM yang bergerak dibidang lansia dalam rangka menyampaikan hasil pelaksanaan survey Dimensia pada usia lanjut di Bali, Rabu (6/6/2018).

Pastika menyebut, aktivitas para lansia juga dipengaruhi kondisi alam, faktor kesehatan dan gizi. Semakin baik gizi yang diperoleh, maka akan kondisinya akan semakin baik untuk mendukung peningkatan kualitas para lansia. Oleh sebab itu, Pemerintah juga akan terus berupaya menyusun program untuk tetap mengaktifkan dan menyehatkan orang lanjut usia.

Pemerintah juga mengajak masyarakat untuk lebih meningkatkan kepedulian terhadap Lansia. Di Bali masih banyak  Lansia yang hidup sendiri serta dalam kondisi terlantar. “Ini perlu kita sikapi bersama-sama, terutama lingkungan sekitar lebih peka terhadap kehidupan para lansia terutama mereka yang hidup sendiri tidak ada keluarga yang mengurusnya,” imbuh mantan Kapolda Bali tersebut.

Direktur Suryani Institute Luh Ketut Suryani menyebut, sampai saat ini masalah lanjut usia di Bali belum menjadi masalah besar.  Para lanjuti usia yang ada sekarang masih terbilang muda dibandingkan dengan usia lanjut usia di negara maju.

Namun masyarakat sudah mulai merasakan masalah tersebut. Mereka ingin membahagiakan orang tuanya, namun tidak semua orang memahami apa yang diperlukan orang lanjut usia.  “Untuk itu perlu dilakukan pencegahan sedini mungkin lewat penyuluhan dan pendidikan pada keluarga-keluarga orang lanjut usia atau mereka yang akan menginjak lanjut usia,” ujar LK Suryani.

Peneliti Suriastini dalam laporan Demensia lanjut usia menyampaikan, survey dilakukan dengan wawancara terhadap 1.685 lanjut usia di seluruh kabupaten dan kota di Bali. Survey digelar Maret-April 2018. Prevalansi Demensia di Bali sebesar 32,6% dan menjadi lebih tinggi dari DI.Yogjakarta yang hanya sebesar 20,1 %.

Prevalensi demensia dipengaruhi oleh tempat tinggal, usia, pendidikan serta kondisi kesehatan dari para lansia tersebut. Demensia yang memiliki cici-ciri diantaranya berupa gangguan daya ingat, sulit fokus, sulit melakukan kegiatan yang familiar, disorientasi, menarik diri dari pergaulan serta perubahan prilaku dan kepribadian.

Hal itu perlu ditangani sedini mungkin dengan mengetahui gejalanya. Penanganan dibutuhkan mengingat banyak yang menganggap ciri-ciri tersebut adalah penuaan biasa. Oleh karenanya, para lansia harus terus dimotivasi untuk aktif dan kedepannya dikembangkan kawasan yang ramah Demensia.

Lihat juga...