Sajen, Kisah Tragedi Korban Bullying di Sekolah
Editor: Satmoko
JAKARTA – APA yang dilakukan seorang siswa ketika melihat sesama siswa di-bully di sekolah?
Alanda yang diperankan aktris muda Amanda Manopo, salah seorang siswa berprestasi di SMA Pelita Bangsa, tampak tak bisa tinggal diam dan berusaha ekstra keras untuk mencegahnya, meski berakibat fatal hingga dirinya yang kemudian malah menjadi korban bullying.
Demikian yang mengemuka dari film Sajen. Sebuah film yang berkisah tentang tragedi korban bullying di sekolah.
Alanda memang adalah siswa berprestasi di SMA Pelita Bangsa. Ia bersama dua sahabatnya Riza (Angga Yunanda) dan Keyra (Chantiq Schaferl) kerap belajar bersama demi meningkatkan peringkat mereka di sekolah.
Namun, upaya ketiganya itu terganggu dengan kelakuan Bianca (Steffi Zamora) serta Davi (Jeff Smith), murid dari keluarga kaya yang suka membully para siswa lainnya di sekolah.
Perilaku jahat Bianca dan Davi membuat Alanda tidak bisa tinggal diam. Secara sembunyi-sembunyi, ia merekam tingkah keduanya untuk menjadi bukti tentang perilaku jahat mereka di sekolah. Tapi, upaya itu justru membuat Alanda menjadi korban bullying.
Kamera handycame kesayangan Alanda direbut Davi dan kalau ingin mengambil datang ke rumah Davi malam hari pada saat party. Ada suara gaib yang membisikkan Alanda untuk tidak datang, tapi Alanda tetap datang ke rumah Davi dan akibatnya memang di luar kehendak Alanda yang dipaksa untuk minum minuman keras hingga mabok.
Pada saat Alanda mabok direkam dan rekamannya kemudian beredar luas hingga mencoreng nama Alanda sebagai siswa berprestasi yang ternyata mabok. Tentu kepala sekolah marah hingga mencabut beasiswa Alanda, bahkan rencana sekolah menguliahkan Alanda di sebuah universitas bergengsi di luar negeri dihentikan seketika.
Merasa depresi berat karena ulah Bianca dan Davi, Alanda akhirnya memutuskan untuk bunuh diri hingga membuat arwahnya gentayangan. Sejak saat itulah sosoknya mulai menghantui sekolah serta mendatangi siswa-siswa yang mem-bully dirinya. Semacam balas dendam yang harus tuntas dibayarkan.
Siapa sebenarnya dalang utama penyebab kematian Alanda? Apa yang terjadi terhadap Bianca dan Davi di tengah teror arwah penasaran Alanda? Lalu, apa makna sajen yang di berbagai sudut sekolah, apakah itu upaya para guru sekolah untuk menenangkan arwah atau ada motif lainnya?
Film ini menghadirkan ketegangan nan mencekam dari awal hingga akhir. Sutradara Hanny R. Saputra mampu mengemas film ini dengan cukup baik. Juga mampu mengarahkan para pemainnya, yang rata-rata bibit-bibit muda.
Adapun skenarionya yang ditulis oleh Haqi Achmad tampaknya memang perlu kerja keras dan kerja cerdas untuk dapat menyelami dunia anak muda zaman now dengan segala problematika kehidupannya.
Akting Amanda Manopo cukup baik. Pengalamannya banyak main sinetron di layar kaca membuatnya bisa tampil prima. Yang patut diacungi jempol tentu profesional dan totalitasnya. Ia rela menjadi arwah gentayangan dengan tata rias yang menyeramkan.
Begitu juga dengan akting Angga Yunanda, Chantiq Schaferl, Steffi Zamora, Jeff Smith, bibit-bibit muda dalam dunia perfilman Indonesia. Wajah Indo mereka yang sebagian mirip dengan bintang-bintang film Hollywood menjadikan tontonan film ini menarik dan sebenarnya tak kalah dengan industri dunia film Barat.
Permasalahannya pada segi teknis dan waktu yang dibutuhkan untuk mengeksplor tema film dengan sebaik mungkin. Meski demikian, teknologi Computer Generated Imagery (CGI) untuk sosok hantu dalam ini mampu digarap dengan cukup baik.
Film ini menyajikan kisah remaja yang dekat dengan keseharian kita sekaligus penting mengangkat tentang bahaya bullying. Walau tindakan itu terlihat sepele dan sekedar iseng, namun efek bagi korbannya bisa sangat luas serta dalam, hingga memungkinkan untuk balas dendam atau menghilangkan nyawa sendiri seperti yang dilakukan oleh karakter Alanda.
Menariknya, walau ceritanya sederhana tapi penonton tentu akan dibuat salah menebak perihal sosok jahat yang paling bertanggung jawab menindas karakter utama tersebut.
Sosok religius yang hadir dalam film ini cukup porsinya, yang sebagaimana dalam dialog dalam film ini, bahwa pembacaan Ayat Kursi semata-mata untuk membentengi diri dari gangguan setan. Juga sebagai bentuk kepasrahan kita sebagai makhluk di hadapan Tuhan Yang Masa Kuasa.
Menonton film ini, kita harus membuka mata akan pentingnya peran serta masyarakat dan keluarga untuk mengatasi tindakan kekerasan mulai dari sekolah hingga lingkungan sekitar. Tidak hanya bullying, judul layar lebar ini juga akrab di telinga karena Sajen seakan sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia yang biasa digunakan untuk acara adat budaya masyarakat kita.
Sajen tentu berbeda dengan persembahan kurban atau tumbal, di mana sajen hanya dibuat untuk kepentingan upacara adat skala kecil dengan tujuan yang berupa rutinitas adat dan memiliki tujuan baik.
Intinya, sajen diadakan untuk mencegah datangnya malapetaka. Sajen biasanya hanya berupa rangkaian bunga dan daun yang berbau wangi seperti melati, juga bisa disertai beberapa buah-buahan dan makanan jajanan pasar, kemudian diiringi dengan pembakaran kemenyan sebagai pengantar kepada arwah nenek moyang.