Pantai Guci Batu Kapal, Akhir Pekan Ramai Pengunjung

Editor: Satmoko

LAMPUNG – Masa ujian sekolah bagi siswa SD hingga SMA sudah berakhir bahkan sebagian sudah dinyatakan lulus dan bisa menjadi kesempatan untuk berlibur.

Salah satu lokasi untuk berlibur masyarakat baik orangtua, anak-anak adalah objek wisata pantai yang menyajikan kesejukan sekaligus pemandangan menarik. Pantai Guci Batu Kapal yang terletak di kaki Gunung Rajabasa desa Maja kecamatan Kalianda menjadi salah satu objek wisata pilihan akhir pekan.

Yuspika Adi Putra (25) selaku pengelola objek wisata Pantai Guci Batu Kapal menyebut nama pantai tersebut sudah cukup dikenal sejak tahun 1990-an. Selain menyimpan legenda tentang si Pahit Lidah yang menjadi cikal bakal penamaan guci batu kapal, keindahan pantai tersebut cukup menarik bagi wisatawan.

Kontur perbukitan, tebing berpadu dengan pepohonan nan sejuk, pasir putih, batu karang menyerupai kapal serta guci semakin menarik untuk dikunjungi.

Yuspika Adi Putra, pengelola objek wisata pantai guci batu kapal, memperlihatkan fasilitas pelampung, ban untuk keamanan selama berenang di pantai [Foto: Henk Widi]
Pantai Guci Batu Kapal diakui Yuspika, demikian ia dipanggil, pada akhir tahun pelajaran sekolah kerap menjadi tujuan untuk berwisata. Lokasi yang dekat dengan kota Kalianda berjarak hanya sekitar lima kilometer dengan waktu tempuh lima belas menit membuat pantai tersebut kerap menjadi pilihan.

Jumlah kunjungan wisatawan jelang bulan Ramadan bahkan disebutnya mengalami kenaikan signifikan oleh wisatawan domestik. Akses jalan yang memadai membuat kendaraan roda dua dan roda empat bisa menjangkau lokasi hingga ke bibir pantai.

“Saat jelang memasuki bulan Ramadan akan ada tradisi mucuk atau membersihkan diri di pantai sehingga pengunjung akan meningkat, sementara akhir pekan ini pengunjung juga sudah sangat banyak,” terang Yuspika Adi Putra saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (6/5/2018).

Para pengunjung menikmati suasana Pantai Guci Batu Kapal di desa Maja kecamatan Kalianda Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
Berdasarkan tren jumlah kunjungan, Yuspika menyebut pengunjung terbagi dalam dua jenis di antaranya pengunjung perseorangan dan rombongan. Pengunjung perseorangan disebutnya kerap datang menggunakan moda transportasi kendaraan roda dua, mobil pribadi.

Sementara pengunjung rombongan kerap membawa minibus atau angkutan pedesaan bahkan bus. Khusus untuk pengunjung perseorangan kerap tiba tanpa pemesanan tempat dan bisa langsung membeli tiket.

Bagi pengunjung rombongan di antaranya komunitas, kelompok, Yuspika menyebut kerap pengunjung melakukan pemesanan tempat. Pemesanan tempat tersebut dilakukan untuk fasilitas saung besar yang terbuat dari bambu yang bisa menampung ratusan orang sehingga tidak digunakan oleh pengunjung lain.

Pemesanan disebutnya bisa dilakukan sepekan sebelumnya untuk memberi kenyamanan pengunjung.

Ombak yang tenang, pasir putih dan kejernihan air pantai guci batu kapal menarik bagi anak anak yang berwisata dengan pendampingan orangtua [Foto: Henk Widi]
“Saat lokasi saung sudah dipesan otomatis kita beri tulisan sudah dipesan agar pengunjung bisa menggunakan fasilitas yang lain,” terang Yuspika.

Keunggulan Pantai Guci Batu Kapal berlokasi berada di kaki Gunung Rajabasa membuat pasokan air tawar bersih melimpah. Pengunjung yang sudah berenang dan mandi air laut  bisa mempergunakan fasilitas kamar mandi bilas yang menyegarkan.

Beberapa wahana berupa ayunan serta tempat untuk swafoto dengan latar belakang batu karang, pasir putih bahkan menjadi daya tarik bagi pengunjung terutama yang tidak ingin berenang.

Bagi pengunjung yang menyukai aktivitas renang, pengelola menyediakan fasilitas berupa pelampung ban berukuran kecil sebesar Rp10.000 dan Rp15.000 ukuran besar.

Ditambah dengan tiket masuk Rp3.000 untuk kendaraan roda dua dan Rp5.000 untuk kendaraan roda empat pada hari biasa, pengunjung cukup mengeluarkan biaya kurang dari Rp30.000 sudah bisa menikmati suasana Pantai Guci Batu Kapal sepuasnya.

Waktu paling tepat mengunjungi pantai Guci Batu Kapal disebut Yuspika umumnya sore hari karena lokasi pantai menghadap ke Barat tempat matahari terbenam. Bagi para pehobi fotografi momen tersebut  sangat tepat dilakukan untuk berburu matahari yang diabadikan dalam foto.

Lokasi yang berada di perbukitan bahkan kerap dipergunakan oleh pecinta olahraga paramotor dengan melakukan kegiatan melayang menggunakan paralayang.

Selain fasilitas untuk bermain bagi pengunjung, fasilitas berisitirahat, kamar mandi dan wc cukup tersedia dengan baik. Keberadaan tempat berjualan sejumlah makanan tradisional bahkan juga menjadi pilihan pengunjung yang ingin menikmati suasana keindahan pantai guci batu kapal sembari menikmati sajian kelapa muda segar.

Kedai kopi hasil produksi warga pesisir Rajabasa bahkan bisa ditemui di Pantai Guci Batu Kapal tersebut.

Nency, salah satu pengunjung asal Bandarlampung menyebut, sengaja datang ke objek wisata Guci Batu Kapal pada pagi hari. Ia sengaja datang pagi untuk melakukan sesi pemotretan bersama kawan sesama pecinta fotografi.

Saat suasana masih sepi dan belum ramai ia mengaku bisa mendapatkan suasana foto yang indah dengan hamparan pasir putih dan bebatuan karang di pantai yang menghadap ke gugusan kepulauan Krakatau di Selat Sunda tersebut.

Lihat juga...