Majdi, Makanan Bergengsi Bukan Solusi Atasi Stunting
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
MATARAM — Gubernur Nusa Tenggara Barat, Zainul Majdi mengatakan, mengatasi masalah stuting atau anak yang mengalami pertumbuhan pendek akibat masalah kurang gizi kronis tidak sekedar memberikan makanan tambahan, tapi bagaimana mengubah pola makan keluarga supaya lebih sehat dan lebih bergizi.
“Paling penting itu, bagaimana setiap hari memakan makanan bergizi, bukan makan makanan bergengsi,” kata Majdi di Mataram, Senin (7/5/2018).
Edukasi secara terus menerus perlu dilakukan, supaya mengkonsumsi makanan sehat yang terdapat di lingkungan sekitar bisa menjadi kebiasaan dan kebutuhan.
Banyak sekali sumber makanan di lingkungan sekitar tapi tidak dimanfaatkan dan dikonsumsi dengan baik, seperti kelor, ubi dan sayuran hijau lain yang mengandung sumber karbohidrat, kalsium dan protein tinggi.
“Makanan mengandung asupan gizi tinggi tersebut oleh kebanyakan masyarakat selama ini justru dicitrakan sebagai makanan kurang berkelas dan bergengsi,” katanya.
Padahal oleh orang asing dan wisatawan, makanan mengandung gizi tinggi seperti kelor, ubi dan beberapa makanan lokal lain justru banyak diburu.
Tapi karena adanya perubahan sosial, justru makanan yang dimakan masyarakat lebih karena faktor gengsi, bukan karena kebutuhan gizi, masyarakat lebih senang makanan siap saji.
“Sebagai contoh sederhana nelayan nangkap ikan, hasil tangkapan dijual, uang hasil menjual ikan kemudian beli mie instan, diberikan kepada anak, itu jelas kurang sehat. Padahal ikan memiliki nilai protein tinggi,” sebutnya.
Tapi mungkin, karena sudah terlalu sering memasak kelor atau karena banyak terdapat di lingkungan, jadi alasan sebagian masyarakat ingin mengkonsumsi makanan lain, tapi semestinya yang bergizi dan sehat.
Majdi menambahkan, iklan makanan moderen lewat media televisi yang demikian masif secara langsung juga turut serta mempengaruhi pola hidup dan makan masyarakat.
“Bayangkan saja dengan iklan makanan moderen dan siap saji demikian masif, para pengusaha sudah pasti banyak mengeluarkan uang untuk mempengaruhi masyarakat,” katanya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan NTB, jumlah kasus stunting atau anak yang mengalami pertumbuhan pendek akibat masalah kurang gizi kronis sangat tinggi di NTB, mencapai 37,2 persen.
Tingginya kasus Stunting di NTB diakibatkan kurangnya asupan gizi, termasuk pola asuh anak. Tingginya Stunting tersebut dikhawatirkan akan bisa berdampak pada bonus demografi di Indonesia termasuk NTB pada 2030.