Kesadaran Warga NTB Obati Gangguan Jiwa, Meningkat

Editor: Koko Triarko

Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mutiara Sukma Provinsi Nusa Tenggara Barat, dr. Elly Rosila Wijaya/Foto: Turmuzi
MATARAM – Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mutiara Sukma Provinsi Nusa Tenggara Barat, dr. Elly Rosila Wijaya, mengatakan, meningkatnya jumlah angka pasung yang ditangani RSJ setiap tahun, bukan berarti jumlah penderita gangguan jiwa juga meningkat.
Peningkatan jumlah angka pasung yang ditangani RSJ setiap tahun, justru membuktikan, tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga dan mengobati anggota keluarga yang dipasung akibat gangguan kejiwaan semakin meningkat.
“Setiap tahun, jumlah masyarakat pasung yang ditangani RSJ Mutiara Sukma memang meningkat, tapi bukan berarti penderita gangguan jiwa tinggi, tapi masyarakat semakin sadar”, kata Elly, di Mataram, Kamis (24/5/2018).
Menurutnya, selama ini banyak masyarakat pasung tidak terdeteksi, karena masyarakat cenderung menyembunyikan, karena dianggap aib. Sekarang, masyarakat mulai menyadari betapa pentingnya mengobati gangguan jiwa dan tidak segan lagi membawa anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa ke RSJ Mutiara Sukma untuk diobati.
“Kalau dulu gambaran atau stigma orang tentang RSJ itu sebagai tempat dikerangkengnya orang jogang (gila), tapi sekarang tidak, karena pelayanan yang kita berikan juga tidak sebatas masalah gangguan jiwa, tapi pengobatan syaraf, pengobatan anak”, katanya.
Untuk melakukan identifikasi dan melakukan pengobatan pasung, RSJ Mutiara Sukma telah menjalin kerja sama dengan Dinkes kabupaten kota serta memberikan pelatihan kepada dokter dan perawat puskesmas terkait cara pengobatan pasung.
Data RSJ Mutiara Sukma sampai Desember 2017, jumlah masyarakat penderita gangguan jiwa sebanyak 642, temuan pasung 469 kasus, riwayat pasung 173, yang telah dilepas 374, sementara jumlah gangguan kejiwaan ditangani mencapai 1770 kasus.
Berdasarkan data hasil riset Kementerian Kesehatan, NTB menduduki urutan empat jumlah masyarakat gangguan jiwa, dengan kategori gangguan jiwa berat secara nasional setelah  DKI Jakarta, Nangroe Aceh Darussalam dan Sumatera Barat. Gangguan jiwa disebabkan banyak faktor, seperti faktor genetik dan kemiskinan.
Lihat juga...