Ayah, Mengapa Sayap Bidadari Itu Berdarah?

CERPEN HAMDANI MW

Terbang, terbanglah bidadariku
Bawalah aku bersamamu
Menari di atas awan seputih salju…

LAGU itu selalu didengungkan oleh Bunda di dekat telingaku sebagai pengantar tidur. Senandung itu dia perdengarkan dengan suara lembut dan terasa indah. Alunan suara itu pelan-pelan membuat kedua mataku teras berat, kemudian terkatup. Pada saat itulah aku merasakan sebuah pengembaraan.

Saat itu aku menjadi seekor burung yang hinggap di pucuk-pucuk pepohonan. Kulempar pandangan jauh ke bawah sana, panorama indah terhampar di depan mata. Apa itu? Oya, anak-anak kampung. Mereka terlihat sedang bermain sepak bola. Kucoba terbang lebih dekat, dan kusaksikan tubuh anak-anak itu terlihat hitam diterpa panas matahari.

Lalu ada apa di pojok kanan lapangan itu, di sebuah halaman rumah yang luas itu ada lagi. Aih, aih, itu ada beberapa anak perempuan sedang bermain lompat tali. Anak-anak itu terlihat tertawa-tawa dengan gembira.

Aku merasa iri. Tentu ada cerita-cerita menarik yang dipercakapkan di antara mereka. Buktinya, mereka tertawa-tawa dengan gembira. Sayangnya, aku hanya seekor burung. Aku tak bisa menikmati kebahagiaan milik manusia-manusia itu. Andai, yah, andai aku bisa menjadi manusia. Tentu aku punya banyak cerita menarik yang bisa kuperdengarkan pada mereka.

Aku bisa tertawa-tawa bersama mereka. Tapi ketika aku manusia, apa yang kubayangkan indah saat menjadi burung, tidak kudapatkan. Ayah dan bunda selalu melarangku bergaul dengan anak-anak di kampung itu.

“Itu bukan kaummu Nak,” ujar Ayah suatu ketika.

“Mengapa aku tidak boleh ke sana, Ayah? Bukankah mereka teman-teman sebaya Mirza?”

“Dengar sayang, kau punya tempat yang lebih baik dan istimewa…”

“Istimewa, di mana itu Ayah?”

“Mirza pernah membayangkan bidadari?” tanya Bunda menatapku dalam-dalam.

“Bidadari yang ada sayapnya itu? Peri seperti dalam dongeng?” tanyaku antusias.

Lalu teringat olehku dongeng-dongeng yang pernah aku dengar dari Bunda sebelum tidur. Seorang anak yang baik dan menurut pada orang tua, akan bertemu dengan bidadari, diajak berjalan-jalan di sebuah taman bunga yang sangat indah. Kadang, anak-anak yang baik hati akan dielus, dipangku dan dininabobokkan dengan lagu-lagu merdu oleh Bidadari.

“Benar, anakku…”

“Bukankah itu hanya dongeng?”

“Bukan sayang, bidadari sungguh ada dan kau bisa menyentuhnya dengan ujung jarimu…” kata Ayah.

Aku memejamkan mata, membayangkan, betapa indahnya bila aku bisa menyentuh pakaian yang dikenakan bidadari. Hmm… apalagi bila aku bisa mengusap-usap bulu-bulu sayap bidadari itu, aduuh….. Kubayangkan wajah bidadari itu bercahaya lembut dan selalu menebar senyum manis.

“Mirza juga bisa minta apa saja pada bidadari yang baik hati itu…”

“Boleh minta permen lolipop?”

Ayah dan Bunda tampak berpandang-pandangan, namun kemudian berkata hampir bersamaan, “Tentu, tentu bo… boleh, sayang. Apapun yang kamu minta pasti akan dikabulkan oleh bidadari. Bidadari adalah penyayang anak-anak baik dan penurut…” kata Bunda.

“Bunda sayang Mirza?” tanyaku, membuat Ayah dan Bunda tampak terkejut.

“Kenapa Mirza tanya seperti itu?” Bunda menatapku dan mengusap-usap kepalaku.

“Kalau Bunda sayang Mirza, Bunda secantik bidadari. Tapi ayah?”

Ayah kulihat terpaku.

“Ayah juga sayang sama Mirza. Sayang sekali….”

“Tapi kenapa Mirza tak boleh bermain-main dengan anak-anak di sebelah rumah itu?”
Kulihat wajah ayah menyemburat merah.

Dalam wajah yang seperti menahan amarah itu, ia hendak berkata-kata, namun segera Bunda menyahut, “Bukannya Mirza tak boleh bermain-main dengan mereka. Tapi tunggu dulu, usia Mirza belum cukup untuk bermain bersama-sama anak-anak itu. Kau lihat sendiri kan, anak-anak itu sudah besar? Mirza masih kecil…”

“Memangnya kenapa kalau mereka sudah besar?”

Ayah terlihat hendak bicara, namun Bunda mendahuluinya, “Sayang, karena mereka sudah besar, gerak mereka lebih cepat, lompatan mereka lebih tinggi. Kamu belum bisa mengimbangi mereka. Kamu bisa jatuh dan terluka…”

Aku pun terdiam, dan kembali terbayang olehku sosok bidadari. Kedua mataku terpejam, membayangkan alangkah indahnya bermain dengan bidadari. Mestinya kalau aku bermain dengan bidadari, tidak ada luka dan kesakitan seperti yang diceritakan Bunda baru saja.

Indahnya bertemu dengan bidadari memenuhi seluruh perasaanku. Bayangan bidadari yang cantik dan berpakaian putih seputih salju itu pun tak pernah hilang dari kepalaku. Terbawa ke manapun aku berjalan.

Terbayang olehku, suatu ketika bidadari itu mengajakku bercanda dengan kunang-kunang di sebuah taman, membuat taman yang gelap menjadi terang benderang. Bidadari itu juga bisa bercakap-cakap dengan Singa, Gajah maupun Rusa.

Di depan bidadari itu, rusa yang biasanya lari ketakutan bila berhadapan dengan Singa, saat itu bisa bercanda dan tertawa-tawa lepas. Dan aku berada di antara mereka. Aku juga dapat bercakap-cakap dengan hewan-hewan itu. Hmm.. alangkah damainya tinggal bersama bidadari.

Pada saat yang lain, bidadari itu menggendongku dengan kedua tangannya, lalu sayapnya yang kokoh itu berkepak-kepak indah, menimbulkan hembusan angin yang menampar-nampar lembut tubuhku. Perlahan tubuhku terangkat bersama bidadari itu menembus awan-awan putih.

Dalam gendongan bidadari, aku terus mengangkasa melewati awan-awan putih itu, yang terlihat seperti gumpalan-gumpalan kapas di angkasa biru. Sempat aku sentuh awan itu, dan terasalah betapa sangat lembut di jariku.

“Seperti itukah surga itu, Bunda?”

Ayah dan Bunda mengangguk dan tersenyum. Rupanya mereka merasa bahagia aku telah merasakan indahnya surga.

“Kapan kita mau bertemu bidadari, Bunda?”

“Kalau Mirza siap, kita bisa bertemu bidadari…”

“Sudah siap, anakku?” tanya Ayah.

Aku mengangguk mantab. Lalu Ayah memberikan kepadaku sepotong kain. Oh, bukan. Bukan selembar kain. Bentuknya seperti jaket? Yah, seperti jaket yang dulu dibelikan Ayah di toko. Tapi jaket yang ini tidak berlengan.

Jaket itu kelihatan tebal. Ayah lalu mengenakan jaket itu ke tubuhku, lalu Bunda mematut-matut wajahku di muka cermin. Bunda menyisiri rambutku yang kusut agar terlihat rapi.

“Duuh…. Anakku terlihat cantik sekali…” kata Bunda sembari memandangiku tak berkedip.

Aku tersenyum. Bukan karena kecantikanku yang dipuji, namun karena sebentar lagi aku akan bermain bersama bidadari di surga.

Ayah kemudian menunjukkan kepadaku seutas tali yang menggantung di jaket yang aku kenakan.

“Dengar ya, Nak… “ ujarnya serius.

“Nanti kalau ayah sudah kasih aba-aba, segeralah tarik tali ini sekencangnya, maka bidadari itu akan muncul di tengah-tengah kita…”

Aduh, semudah ini bertemu bidadari? Pekikku dengan gembira. Rasanya tak sabar lagi aku hendak menarik tali itu. Tapi ayah selalu mengawasiku.

Ayah memasangkan jaket yang sama ke tubuh Bunda, lalu mengenakannya untuk dirinya sendiri. Sekarang kami bertiga sudah mengenakan jaket yang sama dan siap untuk bertemu dengan bidadari.

Perjalanan kami terasa memasuki sebuah lorong yang teramat panjang. Di kanan-kiri terbentang tirai yang melambai-lambai tertiup angin. Langkahku terasa sangat ringan seperti melayang.

Saat kujejakkan kaki ke bawah, terasa jempol kakiku menyentuh tanah, membuat tubuhku melayang ke atas. Heran, aku merasa seperti kehilangan bobot tubuhku. Aku terasa seperti seekor burung yang bisa terbang dengan jaket ajaib. Kulihat ayah dan Bunda pun demikian. Kami bertiga berjalan, tepatnya setengah melayang di sebuah lorong yang amat panjang.

“Berapa bidadari yang akan menyambut kita, Bunda?”

Namun ayah menyahut lebih dulu, ”Masing-masing dari kita akan disambut seorang bidadari, Anakku. Bersabarlah sedikit, tak lama-lagi kita akan bertemu mereka…” setelah berlalu beberapa saat, ayah berteriak, “Tarik talinya, anakku… tarik!!”

Tanpa pikir panjang tali yang menggantung di sisi kanan jaket yang kukenakan itu kutarik sekencangnya. Seketika tubuhku terguncang hebat, terlontar ke atas dengan sangat nyaman.

Bidadariku, oh, bidadariku…. aku merasa melayang-layang tanpa beban lagi. Dan kusaksikan lambat laun tirai-tirai putih yang terbentang di sekeliling kami menyemburat merah. Perasaanku takut bukan kepalang. Kurasakan Bunda merengkuhku dalam pelukan.

“Sabar, Sayang… cup…”

“Jangan hiraukan kiri kanan, Anakku. Tatap ke depan, di sana kita akan bertemu bidadari itu…”

Aku patuhi perintah ayah. Benar saja, beberapa saat kemudian jauh di ujung sana terlihat sebuah titik yang bergerak-gerak. Makin lama, titik itu semakin besar, hingga kemudian menunjukkan wujud aslinya.

Di sana sepertinya berdiri tiga orang bidadari. Persis seperti yang diceritakan ayah. Hatiku amat gembira. Namun setelah tinggal puluhan meter di depan kami, aku nyaris terpekik. Pemandangan di depan mataku jauh berbeda sekali dengan cerita ayah dan Bunda.

Tiga bidadari itu tidak menampakkan senyum dan wajah berseri. Kulihat air mata mengalir dari kedua matanya. Duh, kejadian macam apa yang mampu membuat bidadari itu bersedih? Dan itu, sayap yang seharusnya indah tampak menggelantung ke bawah.

Terlihat darah mengucur dari pangkal sayap itu, membasahi bulu-bulu halus di bawahnya, membuat warna putih salju itu perlahan-lahan berubah menjadi merah.

“Ayah, ayah…. Mana bidadari yang katanya cantik dan bersayap indah itu?”
Aku merengek karena kecewa. Impianku untuk bermain dan digendong bidadari musnahlah sudah. Bagaimana bidadari itu mau menggendongku kalau sayapnya patah dan berdarah?

“Ayah, Bunda, mengapa bidadari-bidadari itu bersedih? Mengapa sayapnya berdarah?”

Ayah dan Bunda tidak berkata sepatah kata pun. Mereka hanya saling berpandangan. Sekali-kali ia beralih pandang pada ketiga bidadari yang sedang bersedih dan terluka itu.

“Ayah… ayah bohong, kan? Ayah bohong! Iya, kan?” tangisku meledak.

Terbang, terbanglah bidadariku
Bawalah aku bersamamu
Menari di atas awan seputih salju…

Kudengar Bunda bersenandung, namun hatiku tak lagi tersentuh. ***

Solo, Mei 2018

Hamdani MW adalah nama pena Suhamdani. Asal dari kota gersang Gunung Kidul. Mulai menulis secara freelance berupa feature, cerpen, cerita anak dan geguritan sejak 1995. Cerita-cerita anaknya telah diterbitkan di berbagai media, antara lain Majalah Hidup, Tabloid Hoplaa dan Majalah Bobo. Buku cerita anaknya yang telah terbit: Molo Musang yang Lupa Diri, Raja yang Sombong, Kelinci yang Cerdik, Musang yang Rakus, serta Merpati dan Ular Sanca oleh Penerbit Nusatama, Yogyakarta, 1995. Novel anak-anak Petualangan Trio Ranger terbit tahun 2013 (Lintang Indiva, Solo). Cerpen-cerpennya terangkum dalam antologi tunggal Romansa (Penerbit Labuh, Yogyakarta, 2005). Antologi Semut Hitam dan Semut Merah terbit September, 2014 (Penerbit Andi, Yogyakarta). Bersama tim Harian Joglosemar, menyusun buku Perempuan Berhati Ikhlas: Sekelumit Kisah Sudjiatmi, Ibunda Jokowi oleh penerbit Kana Media, Yogyakarta, 2014.

Redaksi menerima kiriman cerpen. Tema bebas yang pasti tidak SARA. Naskah cerpen orisinil, belum pernah tayang di media lain dan juga belum pernah dimuat di buku. Kirimkan karya beserta biodata dan nomor ponsel ke editorcendana@gmail.com Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...