Tertinggi di NTT, Indeks Resiko Bencana Sikka Urutan ke-59 di Indonesia
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
MAUMERE — Kondisi geografis dan topografis wilayah kabupaten Sikka menjadikan kabupaten Sikka memiliki indeks risiko bencana tinggi dengan skor 201 dan berada pada urutan ke-59 dari 497 kabupaten dan kota di Indonesia dan berada pada urutan pertama dari 22 kabupaten dan kota di provinsi NTT.
“Dari sembilan jenis ancaman bencana yang sering terjadi di kabupaten Sikka, terdapat 6 jenis bencana dengan risiko tinggi yaitu gempa bumi, letusan gunung api, banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan, gelombang pasang atau abrasi,” sebut Aloysius A. G. Conterius, S.Sos, Kamis (26/4/2018).
Asisten Administrasi Umum Sekertariat Daerah (Setda) kabupaten Sikka ini menambahkan, kabupaten Sikka juga memiliki tiga jenis bencana dengan risiko sedang yaitu tsunami, kekeringan dan cuaca ekstrim.
“Kondisi ini menuntut kita selalu meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman bencana untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan akibat bencana yaitu korban jiwa, kerugian harta benda dan kerusakan lingkungan,” tegasnya.
Sementara itu, kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten Sikka Drs. Muhammad Daeng Bakir menyebutkan, 26 April telah ditetapkan sebagai Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN) yang wajib diperingati.
Penetapan ini, sebut Daeng Bakir, bertujuan untuk membudayakan latihan atau simulasi secara terpadu, terencana dan berkesinambungan guna meningkatkan kesadaran, kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat menuju Indonesia Tangguh Bencana.
“Pemilihan 26 April, sekaligus dalam rangka memperingati tanggal lahirnya Undang-Undang Penanggulangan Bencana Nomor 24 tahun 2007. Undang-undang ini sangat penting karena mengubah paradigma penanggulangan bencana dari perspektif responsif ke preventif,” tuturnya.

Paradigma ini lanjut Daeng Bakir, harus menjadi cara pikir dan cara tindak bangsa Indonesia dan menjadikannya sebagai budaya yang semula responsif atau tanggap darurat menuju paradigma pengurangan risiko bencana.
“Kepala BNPB berharap semua pihak dapat mendukung kegiatan ini dengan melakukan latihan kesiapsiagaan bencana secara serentak pada tanggal 26 April 2018,” sebutnya.
Daeng Bakir menegaskan, upaya pengurangan risiko bencana melalui latihan kesiapsiagaan, mitigasi struktural dan non struktural harus diperhitungkan sebagai investasi untuk keberlanjutan usaha dan pembangunan.