Sejak 1975, MI Nurul Hidayah Bertahan dalam Keterbatasan

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG — Keterbatasan fasilitas belajar mengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI), Desa Padan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, telah berlangsung sejak 1975.

Kondisi tersebut terlihat dengan lokal sekolah yang terpaksa disekat untuk kelas dan sebagian belajar di lorong dengan murid sebanyak 79 siswa. Kondisi tersebut menjadi keprihatinan bagi lembaga sosial ACT (Aksi Cepat Tanggap), sebuah organisasi nirlaba yang fokus pada kegiatan sosial. Selain dilakukan oleh Yayasan ACT, kepedulian juga dilakukan oleh pegiat literasi Motor Pustaka.

Kanan kiri: Dian Eka Darma Wahyuni ketua program ACT Lampung, Siti Nurjanah kepala sekolah MI Nurul Hidayah dan Dian Susanti relawan ACT [Foto: Henk Widi]
Dian Eka Darma Wahyuni, Ketua Program ACT Lampung, menyebut kondisi MI Nurul Hidayah yang memprihatinkan tidak menyurutkan semangat siswa untuk belajar.

Dalam keterbatasan fasilitas, siswa masih tetap belajar dengan sistem kelas rangkap pada kelas yang dipisahkan dengan papan triplek. Sebagai bentuk kepedulian, Dian Eka bersama relawan ACT, dan pegiat literasi Motor Pustaka memberi bantuan berupa alat belajar.

“Kedatangan relawan ACT pertama kali dilakukan untuk memberi bantuan alat belajar berupa meja belajar mini dan susu, selanjutnya kami akan membantu sekolah ini melalui fasilitas lokal belajar serta bantuan alat tulis bagi siswa,” terang Dian Eka Darma Wahyuni, Kamis (26/4/2018).

Selain itu, katanya, ACT juga akan melakukan langkah untuk mendorong pihak terkait dalam upaya melakukan perbaikan serta penyediaan fasilitas lokal belajar di MI Nurul Hidayah. Pada kunjungan selanjutnya dengan kemurahan dari para donatur, bantuan berupa kebutuhan siswa untuk belajar akan diberikan.

Dian Eka juga menyebut, setelah melihat ketersediaan lahan di dekat lokasi sekolah, dukungan bantuan juga akan dilakukan untuk membuat sekolah berkonsep alam.

Sekolah berkonsep alam tersebut akan dibangun di lahan yang masih kosong. Melalui sekolah berkonsep alam, siswa akan belajar tidak hanya di ruang kelas, melainkan bisa belajar di alam terbuka menyesuaikan materi pelajaran.

“Konsep sekolah alam dengan dukungan bantuan dari berbagai pihak semoga bisa terealisasi, karena sudah banyak yang menerapkannya,” beber Dian Eka.

Dian Eka yang didampingi oleh Nita Susanti, salah satu relawan ACT, ikut membagikan meja belajar mini dan susu sebagai tambahan minuman sehat bagi siswa.

Meja belajar mini yang diberikan bagi siswa MI Nurul Hidayah pun langsung digunakan siswa untuk membaca buku bacaan yang dibawa oleh pegiat literasi Motor Pustaka.

Dian Eka mengaku akan memperjuangkan, agar sekolah yang berada di kaki Gunung Rajabasa tersebut segera memiliki fasilitas belajar yang layak salah satunya berkonsep sekolah alam.

Pegiat literasi motor pustaka, Sugeng Hariyono, yang membawa ratusan buku bacaan, juga menyebut jika siswa MI Nurul Hidayah memiliki semangat tinggi untuk membaca buku. Selama hampir tiga bulan terakhir, motor pustaka secara rutin datang ke sekolah sepekan sekali membawa buku. Buku tersebut dipinjamkan kepada siswa dan guru, sepekan kemudian akan diganti dengan buku lain.

“Pustaka bergerak yang saya lakukan secara rutin dengan membawa buku ke MI Nurul Hidayah dibaca siswa di rumah dan hari ini relawan dari Yayasan ACT juga ikut memberi dukungan kepada siswa,” terang Sugeng Hariyono.

Dukungan fasilitas belajar berupa buku bacaan, kata Sugeng Hariyono, dilakukan karena sekolah tingkat SD tersebut tidak memiliki fasilitas perpustakaan. Melalui kegiatan membawa buku kepada siswa, minat baca anak usia dini semakin meningkat.

Berbagai jenis buku bacaan yang dibawa, umumnya merupakan buku bacaan bergambar yang diminati oleh anak-anak usia sekolah dan penunjang buku pelajaran sekolah.

Kepala Sekolah MI Nurul Hidayah, Siti Nurjanah, menyebut keterbatasan fasilitas sekolah juga tidak mengurangi semangat para guru untuk mengajar. Sekolah yang sudah terakreditasi dan berada di bawah Kementerian Agama RI tersebut sudah kerap mengajukan lokal baru. Namun karena keterbatasan anggaran, membuat realisasi untuk pembuatan gedung baru belum terlaksana hingga kini. Ajuan ke instansi terkait melalui pemerintah daerah kabupaten Lampung Selatan pun tak kunjung mendapat tanggapan.

“Keterbatasan lokal ini yang kerap membuat orang tua enggan menyekolahkan anaknya di sekolah kami, dan memilih untuk memasukkan ke sekolah lain,” cetus Siti Nurjanah.

Menurutnya, sebagian orang tua yang menyekolahkan anaknya di MI Nurul Hidayah, merupakan orang tua yang masih peduli untuk menanamkan nilai keagamaan sejak dini. Sebagai sekolah berbasis Islam, Siti Nurjanah menyebut juga menjadi induk kegiatan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tingkat SD bagi sekolah yang belum terakreditasi. Pada tahun ajaran 2017/2018, sebanyak 19 siswa MI Nurul Hidayah dipastikan akan mengikuti UN pada pekan mendatang.

Lihat juga...