Sawir Wirasto Ubah Ampas Kopi Menjadi Lukisan

Editor: Irvan Syafari

MALANG — Bagi sebagian orang ampas kopi tidak memiliki nilai ekonomi sehingga kerap berakhir di tempat sampah menjadi limbah yang terbuang sia-sia.

Namun di tangan Sawir Wirasto, salah satu warga Desa Mangunrejo, Kepanjen, Kabupaten Malang ini, ampas kopi justru dijadikannya sebagai bahan untuk melukis pengganti cat lukis.

Dengan demikian Sawir memberikan manfaat mengurangi sampah, tetapi juga bernilai ekonomis. Hal itu sebangun dengan beberapa kalangan yang  menyulap sampah plastik jadi produk kerajinan.

Diceritakan Sawir, ide menjadikan ampas kopi untuk melukis ia dapat dari kegemarannya menggambar pada sebatang rokok menggunakan ampas kopi atau yang kerap disebut Cethe.

“Saya dulu perokok dan punya kebiasaan nyete di batang rokok. Tapi setelah saya berhenti merokok ternyata kebiasaan nyete itu tidak hilang, akhirnya saya coba praktikkan pada tisu dan ternyata hasilnya bagus,” kisahnya.

Karena Sawir memiliki latar belakang seni rupa, sejak tahun 1999 ia pun kemudian mencoba menerapkannya di atas kanvas. Namun dalam prosesnya ternyata melukis di lembaran kanvas menggunakan ampas kopi memiliki kekurangan, yakni mudah berjamur.

“Pernah saya melukis di atas kanvas memakai ampas kopi tapi ternyata satu minggu sudah muncul jamur. Kemudian saya mencoba formulasi anti jamur,” akunya.

Sawir pernah mencoba menggunakan formalin sebagai anti jamur, tapi menurutnya sangat riskan memakai formalin ditakutkan terkena kopi yang ia minum. Akhirnya Sawir mencoba cara lain dengan menambahkan lem kayu dan kanvasnya juga diberikan perlakuan khusus dengan memakai anti jamur tembok.

“Sebenarnya pekerjaa utama adalah saya penyangrai kopi atau roastery. Jadi aktivitas pagi saya menyangrai kopi sambil minum kopi dan di isi juga dengan melukis,” terangnya.

Lebih lanjut Sawir menyebutkan, dalam melukis ia lebih sering mengangkat tema sosial, sesuai dengan kesehariannya yang juga bergelut di dunia aktivis sosial.

“Karena saya juga aktivis sosial yang menangani anak terlantar, anak yatim, anak jalanan yang dieksploitasi bahkan PSK yang ingin berhenti. Untuk itu saya lebih sering mengangkat tema sosial ke dalam sebuah lukisan,” sebutnya.

Sementara itu menurut Sawir, selama ini sebenarnya melukis hanya ia jadikan sebagai media catatan harian. Di mana setiap kali Sawir selesai melukis, ia langsung unggah ke Facebook atau Instagram. Dari situ kemudian banyak orang yang tertarik dengan lukisannya.

“Jadi kalau ada orang yang suka langsung di tawar dan selama ini orang yang membeli lukisan saya ada yang memberi uang 500 ribu, tapi ada juga yang mau membeli lukisannya sampai dengan harga 7 juta rupiah. Saya yakin mereka mengapresiasi lukisan saya dengan pemahaman dan kemampuan mereka,” tandasnya.

Dikatakan Sawir, selain ingin menggambarkan sekaligus mengkritik permasalahan sosial yang sering di alami masyarakat Indonesia, ia juga ingin menunjukkan kepada masyarakat khususnya anak asuhnya bahwa melukis tidak harus dengan bahan-bahan yang mahal.

Ampas kopi, teh, kayu secang yang tadinya limbah bisa menjadi alternatif bahan untuk melukis.

Lihat juga...