RSUD NTB Sediakan Layanan Radioterapi

Editor: Irvan Syafari

Direktur RSUD NTB, dr. Hamzi Fikri-Foto: Turmuzi.

MATARAM — Warga Lombok yang menderita penyakit berbahaya seperti kanker tidak perlu lagi harus pergi jauh mencari layanan radioterapi. Pasalnya RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) resmi mengoperasikan layanan radioterapi pada 2018 ini. Bahkan masyarakat dari pulau lain, termasuk juga dari NTT yang butuh fasilitas ini bisa singgah.

Gubernur NTB Zainul Majdi berharap, beroperasinya sejumlah fasilitas kesehatan baru di RSUD NTB ini mengurangi rujukan ke luar daerah. Dari sisi biaya, masyarakat juga bisa mengurangi biaya dengan berobat di RSUD NTB.

“Rujukan ke luar daerah, selain menghabiskan banyak biaya berobat, juga harus mengeluarkan biaya perjalanan transportasi dengan antrian lama,” ujar Zainul.

Bagi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) NTB sendiri keberadaan fasilitas radioterapi diharapkan meningkatkan pendapatan pada 2018 ini.

“Kalau tahun lalu pendapatan RSUD NTB yang tercapai senilai 148,4 miliar lebih dari target perolehan pendapatan yang telah ditetapkan sebesar 141,1 miliar, makan tahun 2018 sebesar 152 miliar” kata Direktur RSUD NTB, dr. Hamzi Fikri di Mataram, Jumat (27/4/2018).

Ia mengatakan, terkait keberadaan fasilitas layanan baru seperti radioterapi, diakuinya berpengaruh pada target pendapatan, mengingat fasilitas radioterapi memang sangat dibutuhkan, salah satunya untuk mengobati pasien penderita kanker.

“Semakin banyak fasilitas yang kita punya, otomatis operasional semakin meningkat, pasien juga akan semakin meningkat,’’ katanya.

Meski pendapatan akan meningkat dari keberadaan fasilitas radioterapi, pihaknya juga tidak mengharapkan semakin banyak orang yang sakit atau berobat ke RSUD NTB.

Sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), maka pihaknya dapat menggunakan pendapatan yang ada secara langsung.

Hamzi menyebutkan, pasien-pasien yang dominan ditangani di RSUD NTB merupakan masyarakat yang sudah masuk dalam jaminan BPJS Kesehatan. Dari seluruh pasien yang ditangani, hampir 90 persen merupakan pasien BPJS, sementara pasien umum yang ditangani di RSUD jumlahnya lebih sedikit.

“Dengan meningkatnya layanan berarti pagu anggaran juga meningkat. Realisasi pendapatan hingga saat ini sudah 30 persen. Harapannya semester akhir nanti 100 persen. Walaupun kita berpikir jangan banyak orang yang sakit,” katanya.

Lihat juga...