Pameran Lukisan Ekspresi Penderita Bipolar Digelar di TIM
Editor; Irvan Syafari
JAKARTA — Tak banyak yang tahu pelukis kenamaan dunia asal Belanda, Vincent Van Goh (1853-1890) adalah penderita gangguan bipolar. Gangguan bipolar adalah gangguan mental yang ditandai perubahan suasana hati secara drastis. Misalnya dari yang gembira menjadi pemurung. Itu sebabnya hari kelahirannya 30 Maret yang lalu diperingati sebagai Hari Bipolar Sedunia.
Dalam rangka memperingati Hari Bipolar Sedunia, Komunitas bipolar Care Indonesia didukung BPJS Kesehatan menggelar pameran bertajuk “Ekspresi Ragam Jiwa”, sebuah pameran unjuk kebolehan karya penderita gangguan bipolar.
Pameran ini digelar di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta sejak 2 April hingga 13 April 2018. Pameran itu menampilkan karya dari 24 penderita gangguan bipolar yang telah dikurator oleh seniman sekaligus aktivis kesehatan jiwa, Joko Kisworo.
“Semua karya yang masuk saya seleksi,” kata kurator Joko Kisworo kepada Cendana News di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki beberapa waktu yang lalu.
Seleksi ini, kata Joko, dilengkapi dengan diagnosa atau semacam pengamatan agar karya yang masuk memang benar-benar dari penderita gangguan bipolar, meski masih ada juga seniman yang menyamar jadi penderita gangguan bipolar dan ingin ikut pameran.
“Pameran ini memang tujuannya untuk mewadahi karya penderita gangguan bipolar bagaimana ke depannya kesehatan jiwa mereka menjadi lebih baik, “ ungkapnya.
Menurut Joko, kriteria karya yang dipamerkan dalam pameran ini bebas.
“Setiap individu itu berbeda di situ menariknya sebuah karya seni meski secara kasat mata tampak sama, tapi kalau kita perhatikan lebih jeli karya-karyanya memang berbeda,” paparnya.
Karya rupa para penderita gangguan bipolar secara subjektif mereka masing-masing, disinggungkan dengan kondisi psikologis mereka yang ingin disampaikan kepada publik.
“Pada saat proses kurasi juga saya tanya, misalnya menganpa menggunakan warna hitam?. Lalu dijelaskan sama salah satu di antara mereka, bahwa dia akan tenang dengan warna tersebut. Kemudian dari rekam kesehatan mental yang bersangkutan juga menjelaskan ada riwayat penderita gangguan bipolar,” paparnya panjang lebar.
Sebenarnya seni sangat potensial dan aman untuk terapi para penderita gangguan bipolar.
“Seni tidak ada efeknya dan memang lebih aman karena bisa bebas berekspresi dengan media seni rupanya,” ungkap Joko.

Aliran mereka dalam berkarya adalah ekspresi jiwa murni mereka sebagai para penderita gangguan bipolar.
“Dibandingkan dengan seniman pada umumnya yang tujuan berkaryanya komersial karena dijual, tapi mereka murni untuk berekspresi,” tandasnya.