Kejar Target Rp29 Triliun, Sumsel Genjot Investasi
PALEMBANG – Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mengenjot masuknya investasi di 2018. Dari perencanaan yang disusun, ditargetkan tahun ini bisa mendapatkan investasi senilai Rp29 Trilun baik dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun penanaman modal asing (PMA).
Kepala Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sumsel Megaria mengatakan, masih membutuhkan kerja keras untuk memenuhi target tersebut. Tercatat hingga triwulan I 2018 investasi yang masuk baru terealisasi sebesar Rp3 triliun.
“Jika dilihat angka terupdate, pekerjaan rumah masih banyak untuk mencapai target Rp29 triliun ini. Namun, jika melihat tren pencapaian dua tahun terakhir, nilai investasi Sumsel selalu melebihi target yang dipatok,” tuturnya, Senin (23/4/2018).
Berdasarkan data DPMPTSP, realisasi investasi Sumsel di 2017 diketahui mencapai Rp25,7 triliun. Sementara tahun lalu target investasi yang dipasang adalah Rp25,3 triliun. Penyokong terbesar realisasi tersebut berasal dari dua perusahaan, yakni PT Hutama Karya Rp2,3 triliun dengan proyek jalan tol dan PT Tanjung Enim Lestari (TEL) dengan investasi senilai Rp3,2 triliun.
Lonjakan investasi tertinggi terjadi pada 2016 di mana dari target Rp20,62 triliun, realisasinya mampu melejit menjadi Rp47,36 triliun. Tingginya realisasi itu ditopang oleh perusahaan yang menyelesaikan proyeknya dengan nilai investasi cukup besar, yakni PT OKI Pulp&Paper senilai Rp33,54 triliun. Perusahaan ini tercatat telah menorehkan investasi total Rp43,68 triliun sejak pembangunan di 2014 lalu.
“Tahun lalu TEL melakukan peremajaan bahan baku sehingga investasinya meningkat. Sementara OKI Pulp bakal berinvestasi lagi dengan membangun pabrik tisu di 2019 nanti,” kata Dia.
Selain itu ada pula PT Semen Baturaja (Persero) Tbk yang membangun pabrik di OKU dengan nilai Rp2,36 triliun. Selanjutnya terdapat PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Palembang yang membangun pabrik di Palembang senilai Rp2,80 triliun. Jika dirinci realisasi investasi di Sumsel masih didominasi PMA dibanding PMDN. Sementara untuk serapan tenaga kerja, 60 persen merupakan tenaga kerja Indonesia (TKI) dan 40 persen berasal dari tenaga kerja asing (TKA). (Ant)