Kalamai Ketan Hitam, Santapan untuk Penyemangat
Editor: Satmoko
AGAM – Kuliner yang satu ini, sudah tidak asing lagi. Bentuknya yang gelap, dan kenyal saat digigit, rasa yang manis, membuat siapa yang mencicipinya akan merasa ketagihan.
Di Sumatera Barat banyak kuliner yang masih bersifat tradisional, salah satunya kalamai. Kalamai ini merupakan makanan yang mirip dengan odol-odol. Tapi, jangan berpikir, rasanya sama dengan odol-odol.
Di Jorong Surau Lauik, Kenagarian Panampuang, Kecamatan Ampek Angkek Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Ada sebuah usaha yang membuat kalamai yang bahan-bahannya dari beras ketan hitam dan gula merah.
Mailis seorang pengusaha kalamai di Agam menjelaskan, kalamai yang dibuatnya memiliki bahan yang berbeda dengan kalamai ataupun galamai. Biasanya untuk membuat galamai, bahan utama ialah gula merah yang cair dan diaduk-aduk hingga mengental.
Tapi untuk kalamai miliknya, bahan utama ialah beras ketan hitam yang nantinya turut dicampurkan dengan gula merah dan gula pasir.

Cara membuat kalamai ini, Mailis menyediakan empat kuali berukuran besar. Di dalam kuali itu dimasukkan tepung beras ketan hitam bersama gula merah dan gula pasir.
Untuk komposisi berapa yang banyak antara tepung beras ketan hitam dan gula merah, yang lebih dominan itu ialah tepung beras ketan hitamnya.
“Jadi kita aduk-aduk terus bahan-bahan yang telah masuk ke dalam kuali itu. Memang membutuhkan waktu yang lama. Karena untuk memasak kalamai ini, butuh kesabaran,” katanya, Sabtu (21/4/2018).
Dengan empat kuali besar itu, per hari kalamai yang dihasilkan bisa mencapai 50 kg kalamai. Untuk memasarkannya, kalamai dibungkus dengan dua jenis. Pertama dipenyetkan hingga berbentuk segi empat. Bungkusan kedua dibuat seperti odol-odol.
Soal rasa, kalamai ini tidaklah terlalu manis. Karena di kalamai ini yang lebih dominan itu rasa beras ketan hitamnya ketimbang gula merahnya. Jadi, bagi yang menikmati kalamai ini, tidak akan cepat puas.
“Sudah cukup lama membuat kalamai. Maka dari itu, usaha saya ini telah dipasarkan di sejumlah tempat pertokoan oleh-oleh di Kota Bukittinggi dan Kota Payakumbuh,” jelasnya.
Untuk menikmati kalamai ini, paling nikmat disantap di waktu pagi. Karena rasa manisnya itu akan membuat pagi bersemangat. Biasanya kalamai ini hanya ada di pasar oleh-oleh saja. Untuk di rumah, jarang ditemukan dijadikan hidangan untuk tamu.
“Kalau yang saya buat ini harga per bungkusnya Rp6.000 dengan isi sepuluh kepingan bungkusan kecil kalamai,” katanya.