Inayah: Dangdut Representasi Terbesar Masyarakat Indonesia
Editor: Satmoko
JAKARTA – Inayah Wulandari, putri bungsu mendiang mantan Presiden Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid atau Gusdur ini, sekarang semakin eksis dalam dunia hiburan. Kiprahnya baik di layar kaca maupun pementasan.
Inayah turut main dalam pementasan teater ‘Princess Pantura’, yang digelar pada tanggal 20-21 April 2018 di Gedung Graha Bakti Budaya (GBB), Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.
Dalam pementasan teater yang ditulis dan disutradarai Agus Noor itu, Inayah berperan sebagai penjual warteg yang kemudian ikut ajang pencarian bakat ‘Princess Pantura Idol’.
“Saya suka lagu-lagu dangdut Pantura,“ kata Inayah Wulandari kepada Cendana News, di Gedung Graha Bakti Budaya (GBB), Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, belum lama ini.
Perempuan yang akrab dipanggil Inayah Wahid itu menyebut, beberapa nama penyanyi dangdut Pantura yang sekarang sedang tenar, seperti di antaranya Via Vallen, Nella Kharisma, Brodin, dan lain-lain.
“Saya timnya Nella,“ ungkapnya bercanda seraya tergelak tawa. Inayah juga menyebut lagu kesukaan Gus Dur, ayahnya, yaitu yang dinyanyikan Erie Susan.
“Kesukaannya Bapak itu berat bangets,“ komentarnya.
Kalau dulu ayahnya suka satu album, tapi anak-anak sekarang hanya beberapa lagu saja yang disukai dalam satu album.
“Kalau suka Nella ya hanya beberapa lagu saja, yang tenar saja di masyarakat, “ bebernya.
Bagi Inayah, dangdut itu representasi terbesar masyarakat Indonesia. Jadi tidak heran kalau partai politik ingin menguasai suara tentu dengan melibatkan penyanyi-penyanyi dangdut dalam kampanyenya.
“Kalau partai politik ingin mencari massa maka mencari sumber-sumber suara,“ ujarnya.
Inayah menganggap hal itu logis, tapi yang perlu dilakukan yaitu mengedukasi masyarakat.
“Seringkali harus ada timbal balik, dengan demikian mengedukasi penyanyi dangdut sendiri, apakah murni tujuannya untuk masyarakat apa tidak,“ demikian Inayah mempertanyakan.
Sebenarnya Inayah tidak mengidolakan penyanyi dangdut tertentu maupun menggemari lagu dangdut tertentu.
“Ada lagu yang membuat saya selalu ingat Bapak, yang liriknya berbunyi: orangnya buta tapi hatinya tidak buta, tidak bisa melihat tapi bisa melihat, lebih banyak daripada orang lain,“ paparnya panjang lebar.
Inayah sekarang lebih banyak terjun ke dunia kesenian seperti ayahnya yang juga menyukai kesenian. “Bapak dulu juga berkesenian dengan mengetuai Dewan Kesenian Jakarta,” tegasnya.
Tujuan utama keluarga Bapak saat ini meneruskan perjuangan Bapak, tetap berbuat untuk masyarakat yang sampai sekarang masih banyak PR-nya. Keadaan Indonesia harus dibenahi agar keadaan ke depan menjadi lebih baik.
“Seni mampu menjadi medianya. Masalah politik, ikut atau tidak, pokoknya cara apa pun kita tempuh. Kecuali cara-cara kotor tentu tidak kita lakukan. Karena kita punya komitmen untuk berbuat sebaik-baiknya buat masyarakat,“ tandasnya.