Enak Tho Zamanku, Piye Kabare, Film Bergenre Multitafsir

Editor: Mahadeva WS

Produser Sonny Pudjisasono - Foto Akhmad Sekhu

JAKARTA – Film Enak Tho Zamanku, Piye Kabare bagi sang produser Sonny Pudjisasono berbeda dengan film yang pernah dibuat sebelumnya. Selama ini film Indonesia didominasi film yang bergenre pop. Sedangkan Enak Tho Zamanku, Piye Kabare termasuk genre baru yang dianggapnya multitafsir.

Sonny menyadari resiko membuat film dengan genre baru akan membentuk komunitas penonton tersendiri. “Saya memang sengaja untuk tidak mengekor produksi film-film yang ada. Genre film baru seperti ini memang tidak populer tapi saya yakin genre film ini bisa menjadi pilihan alternatif, “ ungkap Sonny penuh percaya diri kepada Cendana News seusai press screening film Enak Tho Zamanku, Piye Kabare di Gedung Pusat Perfilman H Usmar Ismail (PPHUI), Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (10/4/2018).

Film ini bisa dikatakan fenomena yang ada di masyarakat yang bisa dipersepsikan masa lalu dan masa sekarang. Film ini menceritakan tentang perebutan kekuasaan antara satu generasi kepada generasi selanjutnya. Sonny menyebut dialog-dialog dalam film ini identik dengan Pak Harto.

Ada segmen masyarakat yang disebutnya merindukan zaman Orde Baru, diharapkan film ini mampu mengobati kerinduan mereka. “Di daerah ada komunitas Piye Kabare yang menyambut baik film ini, terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kita mengisi kondisi sosial yang ada di masyarakat. Ada satu keluarga yang kita gambarkan mempunyai kehidupan masa lalu yang punya pijakan, yang kemudian tejadi perebutan oleh saudaranya dengan kondisi yang dibuat tidak nyaman sehingga ada kesan enak tho zamanku,” papar Sonny.

Disinggung kemungkinan film ini memiliki hubungan partai politik tertentu? Sonny menyebut, film sebenarnya adalah produk politik yang memang bisa menjadi alat diplomasi politik. Namun demikin, keberadaan Enak Zamanku Tho, Piye Kabare diharapkan dapat mengisi pilihan di tengah produksi film Indonesia yang cenderung bergenre pop.

“Misi film ini untuk mengingatkan dan sekaligus mencerdaskan masyarakat. Agar masyarakat mencari pemimpin tidak hanya yang populer saja, tapi juga melihat track recordnya,” pungkasnya.

Lihat juga...