Bothok Mlanding Rebon, Kuliner Penggugah Selera Makan

Editor: Satmoko

LAMPUNG – Salah satu makanan tradisional yang kerap dibuat dengan adanya potensi tanaman mlanding atau dikenal dengan petai cina (Leucaena glauca) adalah bothok.

Mlanding yang sepintas seperti petai kerap tumbuh di areal persawahan dan tepi jalan dan bisa digunakan sebagai lalapan. Ali Mustofa (38) salah satu warga Penengahan menyebut, mlanding yang tumbuh liar di tepi sawahnya berfungsi sebagai peneduh. Buah yang lebat diakuinya kerap digunakan sebagai lalapan dan daun berfungsi untuk pakan ternak kambing.

Mlading yang masih muda disebutnya kerap digunakan sebagai lalapan dalam kondisi segar. Setelah dikupas mlanding dengan ciri khas warna hijau segar kerap diolah sang istri menjadi kuliner yang disebut bothok. Bothok berbahan mlanding sebagai kuliner tradisional menurut Ali Mustofa dibuat dengan sederhana dan bumbu yang mudah diperoleh.

Ali Mustofa menikmati bothok hangat sebagai lauk makan nasi saat sarapan [Foto: Henk Widi]
“Semua bahan baku pembuatan bothok mlanding saya peroleh dari sawah karena cabai,tomat dan kelapa ditanam di tegalan dan diolah isteri menjadi bothok dengan tambahan isian berupa udang rebon,” terang Ali Mustofa saat ditemui Cendana News tengah menyantap bothok mlanding buatan sang isteri, Sabtu (7/4/2018)

Sebagai makanan tradisional yang terbuat dari bahan bahan menyegarkan Ali Mustofa mengaku bothok berfungsi sebagai lauk. Namun bothok diakuinya kerap disantap tanpa nasi dan bisa disantap sebagai camilan ringan.

Bothok mlanding udang rebon yang gurih disebutnya paling nikmat disantap dalam kondisi hangat. Ditemani nasi putih hangat, gurihnya rasa bothok mlanding dan aroma khas udang rebon membuat ia bisa menghabiskan satu piring nasi.

“Bothok mlanding rebon yang dibungkus daun pisang dan cara memasak hanya dikukus cocok disantap dengan nasi saja meski tanpa sayur lain,” beber Ali Mustofa.

Yulita mengangkat bothok mlanding rebon yang sudah matang setelah proses pengukusan [Foto: Henk Widi]
Sang istri, Yulita (36) menyebut kerap mendapatkan mlanding yang dipetik dari sawah oleh suaminya. Mlanding dalam kondisi segar menyerupai petai selanjutnya dikupas dari kulitnya sembari menyiapkan bahan pembuatan bothok. Bahan yang disiapkan untuk pelengkap bothok mlanding merupakan bahan alami dari rempah yang menyegarkan.

Bahan baku bothok di antaranya mlanding dari beberapa tangkai yang sudah dikupas, satu butir kelapa setengah tua, tomat, cabai hijau, cabai merah, daun salam. Selain itu beberapa bumbu halus yang disediakan berupa bawang merah, bawang putih, kemiri, cabai merah, garam dan sedikit gula pasir. Daun pisang kepok segar sebagai pembungkus dipilih yang masih muda untuk memudahkan proses pembungkusan bothok mlanding.

Setelah satu butir kelapa diparut, semua bahan bumbu halus berupa bawang merah, bawang putih, kemiri, cabai merah, garam, gula pasir dicampur merata. Proses pencampuran diakui Yulita dalam wadah baskom dilakukan secara merata. Selanjutnya bahan lain berupa tomat, cabai merah, daun salam diiris kecil kecil. Bisa juga ditambahkan cabai rawit kecil utuh yang dicampurkan ke dalam bahan.

“Mlanding dan rebon ditaburkan saat proses pembungkusan menggunakan daun pisang berbentuk segitiga agar komposisinya cukup pas,” beber Yulita.

Bahan utama pembuatan bothok mlanding dan bumbu disiapkan [Foto: Henk Widi]
Selain ditambahi dengan udang rebon alternatif tambahan untuk bothok mlanding oleh Yulita kerap ditambahi dengan telur kocok. Telur ayam kocok yang sudah diberi bumbu tersebut berfungsi sebagai perekat bothok dan menambah kelezatan.

Semua bahan yang dibungkus dengan daun pisang disemat menggunakan lidi dan dimasukkan dalam alat pengukus. Proses pengukusan dilakukan selama kurang lebih 30 menit. Bothok mlanding rebon yang sudah matang ditandai dengan daun pisang yang sudah layu dan bothok bisa diangkat.

Bothok mlanding dengan rasa yang lezat dan gurih udang rebon sangat cocok disantap bersama nasi hangat saat sarapan. Bothok mlanding rebon bahkan bisa disantap tanpa nasi sebagai camilan.

Lihat juga...