Bidik Desainer Muda, Solo Gelar Lomba Perancang Busana 2018
Editor: Satmoko
SOLO – Dunia fashion tengah membidik generasi milenial untuk melahirkan desainer-desainer muda yang masih fresh. Lomba Perancang Busana 2018 yang digelar di Solo Baru, Sukoharjo, Solo, Jawa Tengah, menyisakan 10 finalis yang semuanya merupakan desainer muda.
Ketua Panitia Lomba Perancang Busana 2018, Djongko Rahardjo menjelaskan, lomba ini awalnya diikuti 78 peserta baik dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur maupun Yogyakarta. Seluruh peserta awalnya diminta membuat desain karya fashion dan diminta untuk presentasi.
“Seluruh peserta ini kita minta bikin konsep desain dan dipresentasikan. Mereka harus bisa meyakinkan kepada panitia, serta juri jika konsep mereka benar-benar bagus, original serta mampu direalisasikan,” ucapnya di sela lomba yang diselenggarakan di Balroom Best Western, Solo Baru, Sabtu (28/4/2018).

Dari 78 peserta lomba perancang busana ini, dewan juri akhirnya memilih 10 finalis. Dari 10 finalis ini mereka diminta merealisasikan 5 desain yang telah diajukan, dan hasilnya dinilai oleh para dewan juri yang merupakan desainer top di Indonesia. 10 finalis ini memiliki karakter yang berbeda-beda dan memiliki nilai plus tersendiri.
“Karakter 10 finalis ini sangat kuat. Ada yang membuat karyanya berdasarkan fenomena alam. Seperti meletusnya gunung berapi, yang dijadikan inspirasi menjadi desain busana. Ada pula yang fenomena gerhana bulan seperti super blood moon. Seluruh bahan kain peserta lomba ini seluruhnya berasal dari Melina Textile,” terang Fashion Designer asli Surabaya itu.
Tujuan lomba perancang busana 2018 tak lain untuk mencari bibit desainer muda. Usia peserta lomba ini juga dibatasi, yakni 18-35 tahun. Dengan tujuan usia 18 tahun merupakan usia emas, dimana mereka akan menentukan jenjang berikutnya. Apakah memutuskan kuliah, atau meniti karya. “Kalau usia di atas 35 tahun, mereka pasti sudah punya pekerjaan. Dengan pemikiran itu, maka untuk memulai karier memang di usia 18-35 tahun,” urainya.
Salah satu juri, Eko Candra mengaku takjub dengan hasil kreasi dari lomba perancang busana kali ini. Selain masih muda-muda, karena sebagian peserta ada yang masih berstatus pelajar SMK, konsep dan ide kreatif yang dituangkan dalam karya desainer benar-benar asli dari mereka.
“Ada yang asimetris, ada menggunakan bahan lurik. Hebatnya juri awal yang memilih 10 finalis ini, mewakili karakter masing-masing. Dan yang lebih menakjubkan, desainer ini benar-benar menjahit sendiri. Saya sampai merinding mendengar cerita mereka. Intinya perjuangan mereka dari seleksi sampai ke final ini patut diberi apresiasi banget,” tekannya.

Sementara itu, salah satu peserta Zulkhaina Faina Syifa mengaku terinspirasi dengan gerhana bulan (bulan merah) yang belum lama ini sempat menjadi fenomena alam yang menakjubkan.
Konsep super blood moon inilah yang kemudian dicobanya dijadikan desain pakaian bagi generasi milenial. “Kenapa blood moon, karena fenomena gerhana bulan ini sempat menarik perhatian masyarakat luas. Nah, ini saya coba buat desain baju dan warna merah menjadi dominan serta dipadu warna hitam dan putih,” ungkap Siswi Kelas 3 SMK di Kudus, Jawa Tengah.
Berbeda lagi yang dituangkan oleh Toni Lestari, yang memilih konsep minimalis building sebagai acuan dalam membuat desain busana. Bentuk minimalis rumah yang penuh dengan warna dan corak menjadi tema dalam karyanya yang berjudul The Secret Minimalist Buliding.
“Konsep rumah minimalis ini membuat saya tertarik untuk dijadikan desain busana. Perpaduan warna antara sudut rumah satu dengan sudut lainnya menjadi komposisi yang indah dan nyaman dipandang. Hal inilah yang saya coba buat dengan memadukan warna yang kecil-kecil menjadi busana yang pastinya nyaman dipakai,” tandas pemuda 21 tahun asli Blitar, Jawa Timur.